Darilaut – Debu yang berada di gurun Sahara Afrika tidak hanya berputar-putar di kawasan tersebut. Pusaran debu Sahara ini terbawa angin menyeberangi Samudra Atlantik hingga Amerika Serikat.
Angin timur di bulan Juli 2022, telah membawa gumpalan besar debu Sahara di atas Samudra Atlantik.
Kadang-kadang, debu di lapisan udara Sahara tersebut telah menyebar hingga Karibia, Texas, dan Florida.
Di Florida Selatan, ahli meteorologi menghubungkan debu yang masuk ke langit berkabut dan matahari terbenam yang mencolok, serta curah hujan yang berkurang.
Seperti tanggal 26 Juli 2022, MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) pada satelit Aqua NASA memotret gambar warna alami (lihat foto) segumpal debu saat mengalir di atas Sahara Barat.
Keesokan harinya, sensor yang sama memperoleh gambar awan yang berputar-putar melalui langit berdebu melawan arah angin di pulau Madeira di Portugis.
Citra satelit berwarna alami lainnya dari 4 Juli hingga 27 Juli menunjukkan denyut debu terbaru. Ini hanyalah salah satu dari sekian banyak dalam beberapa pekan terakhir.
Pola awan spiral di dekat Madeira adalah hasil dari pusaran jalan von Kármán, pola pusaran berulang yang berputar dalam arah bergantian.
Pola tersebut dapat terjadi setiap kali fluida bergerak di sekitar tebing yang memisahkan aliran. Dalam hal ini, vortisitas (putaran akibat adanya beda kecepatan) terbentuk oleh massa udara yang bergerak di sekitar Madeira.
Pada titik tertingginya, pulau ini menjulang 1.861 meter (6.106 feet) di atas permukaan laut.
Debu memainkan peran utama dalam iklim bumi dan sistem biologis. Karena kaya dengan zat besi dan mineral lain yang dibutuhkan tanaman dan fitoplankton, debu menyediakan pupuk alami bagi ekosistem ketika mendarat melawan arah angin.
Partikel di udara juga menyerap dan memantulkan sinar matahari—mengubah jumlah energi matahari yang mencapai permukaan planet.
Debu juga dapat meningkatkan atau mengurangi pembentukan awan dan badai, tergantung pada kondisi atmosfer lainnya.
“Sebagian besar ahli badai berpikir bahwa Lapisan Udara Sahara buruk untuk badai,” kata ahli meteorologi Universitas Miami, Brian McNoldy.
“Tidak hanya mengandung udara kering, tetapi biasanya ada lapisan geser angin kencang yang terkait dengannya. Badai membenci kedua hal itu.”
Sejauh musim ini, McNoldy mengatakan tiga badai (storms) bernama di Atlantik memiliki akumulasi energi siklon sekitar 41 persen dari rata-rata untuk titik ini di musim.
“Itu tenang, tapi keadaan bisa berbalik dalam sekejap mata hanya dengan satu badai,” katanya.
“Jika kami masih berada di rata-rata 41 persen pada akhir September, itu akan menjadi tanda pasti dari musim yang tenang.”
Sumber: Earthobservatory.nasa.gov
