Saya tinggal di Paris, Saat Gelombang Panas, Kota Cahaya Meredup

Berdasarkan data dari satelit Copernicus Sentinel-3 yang diperoleh pada 23 Juni 2026 pukul 09:54 UTC, tentang Suhu Permukaan Tanah di seluruh Prancis dan Spanyol utara. Nilai-nilai ini mencerminkan suhu permukaan tanah, bukan suhu udara. Meskipun keduanya secara umum berkorelasi, keduanya dapat berbeda secara signifikan. GAMBAR: European Union, Copernicus Sentinel-3 imagery/WMO

Oleh: Sophie Loran, communication and advocacy lead on climate action at the United Nations Environment Programme

Darilaut – Saya tinggal di salah satu kota terindah di dunia, Paris. Namun, saat gelombang panas, seperti yang melanda Prancis saat ini, Anda hampir tidak menyadari keindahannya.

Setelah seharian lagi dengan suhu 35°C, Paris bukan lagi tentang kafe-kafe menawan dan bangunan-bangunan Haussmann. Ini tentang sisi jalan mana yang teduh, jalur metro mana yang harus dihindari, dan bagaimana mencegah apartemen Anda berubah menjadi oven.

Selama gelombang panas, warga Paris mendesain ulang hari-hari mereka berdasarkan matahari. Di musim panas, saya tidak lagi “memiliki jadwal.” Saya memiliki jendela panas. Sebelum pukul 10 pagi saya efisien, optimis. Dari pukul 14.00-18.00, saya hampir menghilang. Setelah pukul 21.00: saya muncul kembali sebagai manusia normal.

Paris, selama gelombang panas, menjadi kota para bangun pagi dan pejalan kaki larut malam. Jika Anda mencoba melawan ritme ini, Anda akan kalah.

Di kota yang terkenal dengan gayanya, kebanyakan orang mulai berpakaian untuk bertahan hidup. Pakaian yang terstruktur dan penampilan yang rapi telah hilang. Sebaliknya, linen menjadi gaya hidup dan ukuran besar menjadi penting. Panas akhirnya membuat semua orang tunduk.

Transportasi juga menjadi keputusan strategis.

Metro, di musim panas, sangat membosankan. Jadi, warga Paris beradaptasi: lebih sedikit perjalanan panjang di bawah tanah, lebih banyak berjalan kaki (dengan hati-hati, di tempat teduh) dan lebih banyak istirahat di tempat-tempat sejuk. Anda mulai berpikir: apakah perjalanan ini sepadan dengan kepanasan? Terkadang, jawabannya adalah tidak.

Banyak orang, seperti saya, membuat peta mental tempat-tempat perlindungan yang sejuk. Ini mungkin keterampilan bertahan hidup yang paling penting. Seiring waktu, Anda belajar ke mana harus pergi ketika sudah terlalu panas: museum, taman yang dipenuhi pepohonan, supermarket acak untuk pendinginan selama 10 menit.

Kemudian, ada cara mengatasi yang paling utama. Di akhir pekan, banyak yang pergi. Pada saat Jumat tiba, tujuannya sederhana: melarikan diri. Saya keluar dari kota dan mencari hutan, sungai, dan danau—secara harfiah, di mana pun udara bergerak dan air ada.

Namun, kemampuan untuk pergi, untuk menemukan udara yang lebih sejuk, untuk menyegarkan diri adalah sebuah hak istimewa. Kebanyakan orang tidak memiliki pilihan itu. Dan di situlah menjadi jelas: bertahan hidup dari panas ekstrem secara individu tidak sama dengan menyelesaikan masalah secara kolektif.

Di situlah pekerjaan saya mulai terasa jauh lebih dekat dengan rumah. Saya memimpin komunikasi dan advokasi tentang perubahan iklim. Sebagai bagian dari pekerjaan itu, saya membantu menyebarkan informasi tentang solusi untuk panas ekstrem, seperti pendinginan berkelanjutan dan bangunan yang tangguh.

Pesan-pesan itu menjadi semakin penting seiring dengan pemanasan global. Peristiwa panas ekstrem, yang dulunya jarang terjadi, sekarang terjadi hampir tiga kali lebih sering.

Tetapi kota-kota kita tidak harus kepanasan. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membuatnya lebih layak huni ketika suhu melonjak.

Kita dapat memperluas apa yang disebut pendinginan pasif dengan melakukan hal-hal seperti menanam pohon dan mengecat atap kita dengan warna putih reflektif. Kita dapat mendesain bangunan kita agar tetap sejuk secara alami dengan memanfaatkan ventilasi silang, menggunakan bahan bangunan yang lebih mudah bernapas, dan membuat langit-langit lebih tinggi sehingga udara panas naik dan menjauh dari kita.

Menurut Global Cooling Pledge, kita dapat meningkatkan akses ke pendinginan berkelanjutan dengan memperluas pendinginan pasif dan membersihkan teknologi pendinginan sambil meningkatkan efisiensinya. Namun, kita harus memastikan solusi ini dapat diakses oleh semua orang, bukan hanya mereka yang mampu membelinya.

Beberapa kota sudah mulai bergerak ke arah ini. Di Paris, itu berarti menanam hutan kota, menghijaukan sekolah dan ruang hijau, dan merencanakan untuk menghadapi panas ekstrem.

Melalui latihan “Paris pada 50°C”, kota ini telah mulai mengajukan pertanyaan sulit: apa yang terjadi jika suhu musim panas mencapai 50°C dan apakah kita siap untuk panas seperti itu? Pemikiran itu sekarang menjadi bagian dari upaya global yang lebih luas, dengan inisiatif seperti Beat the Heat dari Kepresidenan COP 30 dan Cool Coalition yang dipimpin Program Lingkungan PBB (UNEP) dan aktivasi 50@50-nya.

Karena pendinginan bukan hanya tentang kenyamanan lagi. Hal ini akan menentukan apakah kota-kota kita tetap layak huni di tahun-tahun mendatang. (Sophie Loran, communication and advocacy lead on climate action at the UNEP)

Exit mobile version