Darilaut – Siklon Tropis Freddy telah meningkat menjadi kategori 3 di selatan Bali. Sistem yang berada di Samudra Hindia ini diperkirakan akan berkembang menjadi kategori 4 dengan kecepatan angin 205 km per jam.
Pusat Peringatan Siklon Tropis, Biro Meteorologi Australia, dalam buletin yang dikeluarkan Rabu (8/2) pukul 02.45 waktu setempat menjelaskan siklon Tropis parah (Severe Tropical Cyclone) kategori 3, terletak jauh di Barat Australia.
Sistem ini diprediksi akan menjadi lebih intensif menjadi kategori 4 pada Rabu pekan ini, saat bergerak ke barat-barat daya di atas perairan terbuka. Sistem akan bergerak lebih jauh dari barat Australia.
Topan Tropis Freddy terletak 690 km barat laut Karratha dan bergerak ke barat barat daya dengan kecepatan 15 kilometer per jam.
Sikon tropis ini, menurut Biro Meteorologi Australia, tidak menimbulkan ancaman bagi pantai di Australia Barat.
Menurut Pusat Peringatan Siklon Tropis Bersama, Joint Typhoon Warning Center (JTWC) selama enam jam terakhir Freddy terletak 882 km utara-timur laut Learmonth, Australia, dan telah bergerak ke barat-barat daya dengan kecepatan 17 km per jam (9 knot).
Dalam 24 jam, Freddy akan mencapai puncaknya pada kecepatan 205 km per jam (110 knot). Kemudian akan melemah, sebelum menguat kembali dalam waktu sekitar tiga hari.
Tinggi gelombang signifikan maksimum adalah 8,8 meter (29 feet), kata JTWC.
Deputi Bidang Meteorologi – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Selasa (7/2) menjelaskan Siklon Tropis Freddy terbentuk di Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Barat, dengan kecepatan angina maksimum 45 knot dan tekanan udara minimum 991 mb.
Sistem ini bergerak ke arah barat daya dengan potensi mengalami peningkatan intensitas dalam 24 jam ke depan. Sistem ini menginduksi peningkatan kecepatan angin >25 knot (low level jet) dari perairan sebelah selatan NTB dan membentuk daerah konvergensi memanjang di perairan sebelah selatan Banten – Jawa Barat, dan perairan selatan Jawa Timur.
Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan gelombang tinggi di sekitar wilayah siklon tropis dan di sepanjang low level jet/konvergensi tersebut.
94S
Sementara Bibit Siklon Tropis 94S terpantau berada di Samudra Hindia barat daya Lampung, dengan kecepatan angin maksimum 25 knot dan tekanan udara minimum 1001 mb.
Sistem ini bergerak ke arah Barat Daya dengan potensi untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada dalam kategori Tinggi.
Sistem ini membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang dari perairan barat Sumatera barat hingga Lampung.
Menurut Biro Meteorologi Australia 94S terletak 270 km selatan Pulau Cocos dan bergerak ke barat daya dengan kecepatan 19 kilometer per jam.
Sistem bergerak ke barat daya dan melewati selatan Kepulauan Cocos (Keeling) pada Rabu pagi. Diperkirakan akan terus bergerak barat daya sebelum melewati wilayah Australia (barat 90E) pada Kamis (9/2).
Angin kencang dapat berkembang di sisi selatan selama hari Rabu dan rendah dapat menguat menjadi intensitas siklon tropis pada Kamis pagi.
99P
Sistem ini dengan tekanan sentral 994 hPa (hektopaskal) sekitar 425 km timur timur laut Willis dan 870 km utara timur laut Mackay. Bibit siklon tropis ini bergerak dengan kecepatan 8 kilometer per jam.
Bibit ini berada di atas Laut Koral utara dan sedang berkembang saat bergerak menuju barat daya. Sistem diperkirakan akan bergerak ke selatan pada hari Rabu lalu tenggara pada Kamis, tetap berada jauh di lepas pantai pantai timur Queensland.
Ada kemungkinan sistem ini akan berkembang menjadi siklon tropis hari ini, dan diperkirakan akan menguat lebih lanjut pada hari Kamis.
Sistem ini diperkirakan akan melacak di dekat Pulau Norfolk selama akhir pekan. Dampak siklon tropis langsung atau pendaratan diperkirakan tidak terjadi di pesisir Queensland.
Selain itu, menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, pusat tekanan rendah terpantau di perairan selatan Papua yang membentuk daerah konvergensi memanjang di Laut Banda, Laut Jawa dan Laut Flores serta sirkulasi siklonik terpantau di perairan utara Kalimantan Barat.
Daerah konvergensi lain juga terpantau memanjang di Sumatera Utara, di Riau bag timur, di Laut Sulu, di Utara Kalimantan Utara, di Sulawesi bag tengah, di Maluku Utara dan dari Papua Barat hingga Papua serta daerah pertemuan angina (konfluensi) di Selat Karimata bagian selatan dan di Laut Jawa bagian barat.
Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar pusat tekanan rendah/sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/ konfluensi tersebut.
