Tambang Emas Sumalata di Masa Kolonial Belanda

Salah satu peninggalan peralatan pengoperasian penambangan emas di masa pemerintah kolonial Belanda di di Sumalata. FOTO: VERRIANTO MADJOWA

Darilaut – Penambangan emas di Desa Buloila, Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara, hanya salah satu titik penggalian mineral yang sudah ada sejak masa kolonial Belanda.

Di masa lalu, pada abad 18 pencarian emas sangat bergairah di Gorontalo, termasuk di Sumalata. Banyak rakyat yang meningkat kesejahteraannya.

Perdagangan pun makin bergairah dengan adanya tambang emas di berbagai tempat di Gorontalo.

Beberapa aspek yang mengurai tentang emas di Gorontalo antara lain melalui tulisan Hasanuddin (2004), Gorontalo: Tantangan dan Kebijakan Sosial, Politik & Ekonomi Kolonial Belanda, serta Harto Juwono dan Yosephine Hutagalung (2005), Limo lo Pohalaa, Sejarah Kerajaan Gorontalo.

VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) — persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki hak monopoli atas perdagangan di Asia pada abad ke-17 hingga ke-18 – dan orang Cina (Tionghoa) berlayar ke Gorontalo, termasuk ke Sumalata untuk mencari dan membeli emas.

Kompeni khawatir emas yang dibeli di Gorontalo ini akan dijual pedagang Cina kepada Spanyol di Filipina. 

Bila Spanyol membeli emas tersebut, akan menguatkan nilai mata uang Spanyol dan mata uang Belanda akan merosot.

Di masa itu, mata uang Belanda digunakan dalam perdagangan internasional di Asia Tenggara.

Pada tanggal 26 September 1730, VOC mengikat perjanjian baru dengan penguasa Gorontalo dan Limboto. Isi perjanjian ini antara lain berkaitan dengan emas dapat dilihat sebagai berikut:

”Pasal 2. Gubernur VOC di Maluku berhak memerintahkan para penguasa Atinggola, Bolango dan Bone bahwa mereka harus menyelesaikan proyek bangunan kompeni menurut kebiasaan lama bersama-sama orang-orang Gorontalo dan Limboto, termasuk menyetorkan emas dan mengangkutnya ke pelabuhan Tomakalang. Jumlah emas yang disetorkan  sesuai jumlah kawula masing-masing penguasa.”

Pada tanggal 16 Juni 1831, raja Gorontalo menandatangani kesepakatan dengan pemerintah kolonial Belanda soal penyediaan tenaga  kerja dan setoran emas.

Sementara itu, orang-orang Tionghoa memborong lokasi penambangan emas di Sumalata bagi kepentingan Goud Exploitatie Soemalata Mijnbouw yang dimulai tahun 1888.

Tapi, penambangan ini menimbulkan pergolakan. Kerusuhan meledak tanggal 10 Maret 1899 dengan sasaran beberapa pekerja Tionghoa dan pos pasukan Belanda.

Perusahaan tambang emas di masa itu, antara lain, Mijnbouw-Maatschappij Soemalata berkedudukan di Amsterdam membuka perwakilan di Gorontalo tahun 1896.

Kepemilikan Mijnbouw-Maatschappij Soemalata  sebanyak 2.680 blok tambang, selanjutnya dikurangi 500 blok yang diserahkan pengelolaannya kepada Noord-Celebes Mijnbouw-Maatschappij.

Berdasarkan penyelidikan di masa itu, Sumalata mempunyai potensi bijih emas yang cukup besar.

Kemudian, Exploratie en Mijnbouw-Maatschappij Kwandang-Soemalata,  dan beberapa perusahaan kecil di antaranya Mijnbouw-Maatschappij Monano. Perusahaan ini memperoleh empat ijin lokasi penambangan pada 1897.

Sumalata memiliki dan menyimpan sejarah panjang penambangan emas di Gorontalo. Wilayah yang terletak di pesisir Laut Sulawesi tersebut memungkinkan kapal-kapal berlayar dan menjangkau lokasi penambangan emas. (VM)

Exit mobile version