Tanah Longsor di Mamuju Menewaskan 4 Orang

Akses jalan dan rumah terdampak longsor di Kelurahan Mamunyu, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (27/1). FOTO: BPBD Kabupaten Mamuju/BNPB

Darilaut – Empat orang meninggal dunia karena tanah longsor di Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, pada Minggu (26/1). Selain korban tewas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 4 orang mengalami luka-luka.

Korban luka telah dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dan Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan tindakan lebih lanjut.

Longsor melanda Dusun Tamansari, Kelurahan Mamunyu, Kecamatan Mamuju. Peristiwa itu terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Mamuju dan sekitarnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mamuju  bersama tim gabungan sempat memberhentikan operasi pencarian karena cuaca dan medan masih tidak memungkinkan. Dikhawatirkan berpotensi terjadi longsor susulan.

Setelah cuaca kondusif, operasi kembali dilanjutkan hingga upaya pembukaan akses jalan yang sempat terdampak longsor di Kelurahan Mamunyu.

Selain itu, BPBD mengerahkan dua perahu lipat dan satu perahu karet untuk evakuasi warga terdampak banjir ke kerabat terdekat serta mendistribusikan bantuan logistik dan air bersih kepada para pengungsi bersama Dinas Sosial Kabupaten Mamuju.

BPBD Kabupaten Mamuju  mencatat sebanyak empat kecamatan terdampak banjir, antara lain Kecamatan Mamuju (Kelurahan Binanga dan Desa Bambu); Kecamatan Kalukku (Kelurahan Bebanga, Desa Pammulukang dan Desa Ahuni); Kecamatan Simboro (Kelurahan Simboro); dan Kecamatan Tapalang (Desa Orobatu).

Berdasarkan hasil asesmen BPBD, sebanyak 1.377 unit rumah, dua unit fasilitas ibadah dan tujuh unit sekolah terdampak banjir.

Adapun tercatat tujuh unit rumah rusak dan sebanyak 1.972 jiwa terdampak kejadian ini. BPBD melaporkan satu unit rumah terdampak tanah longsor di Kelurahan Mamunyu, Kecamatan Mamuju.

Sebelumnya banjir juga merendam akses jalan Trans Sulawesi pada Minggu (26/1).

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah.

Jika hujan lebat mengguyur lebih dari satu jam, bagi warga yang tinggal di lokasi tanah miring atau dekat lereng tebing maupun bukit untuk dapat melakukan evakuasi sementara guna menghindari potensi tanah longsor.

Pemerintah daerah dan warga setempat dapat melakukan pemeriksaan dan pembersihan saluran drainase serta daerah aliran sungai untuk mengantisipasi peningkatan debit air akibat hujan maupun luapan air sungai.

Selanjutnya dapat memantau informasi prakiraan cuaca secara berkala melalui BMKG dan mengikuti informasi yang dapat dipertanggungjawabkan terkait dengan potensi bencana maupun instruksi berkaitan dengan kedaruratan melalui BNPB maupun BPBD setempat.

Exit mobile version