Darilaut – Wilayah pesisir indentik dengan tanah yang mengandung garam air laut. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini mengembangkan teknologi bawang merah yang adaptif untuk pertanian pesisir.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arlyna Budi Pustika, memperkenalkan teknologi true shallot seed (TSS) atau benih botani bawang merah.
Teknologi ini dinilai memiliki prospek besar dalam mendukung sistem produksi bawang merah yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan.
“Selain mengurangi risiko penyebaran penyakit melalui bahan tanam, TSS juga mempermudah distribusi benih dan membuka peluang pengembangan sistem produksi berbasis benih botani,” kata Arlyna seperti dikutip dari Brin.go.id.
Dalam workshop yang digelar di Kota Batu, Jawa Timur, pekan lalu, membahas pengembangan sistem produksi bawang merah, cabai, dan padi yang lebih produktif, efisien, dan adaptif terhadap perubahan iklim, serta berkelanjutan dalam jangka panjang.
Kawasan pesisir menjadi perhatian utama dalam pengembangan sistem pertanian masa depan karena berpotensi besar mendukung produksi pangan nasional.
Namun, wilayah ini menghadapi tantangan seperti salinitas tanah yang tinggi, degradasi lahan, keterbatasan sumber daya, dampak perubahan iklim, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang memengaruhi produktivitas pertanian.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN, Rini Murtiningsih, menjelaskan serangan trips, ulat grayak, lalat bawang, dan berbagai penyakit tanaman masih menjadi tantangan utama bagi petani bawang merah.
Menurut Rini pendekatan Pengelolaan Hama Terpadu terus dikembangkan melalui kombinasi budi daya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan agroekosistem secara rutin, dan peningkatan kapasitas petani sebagai pelaku utama pengendalian.
Berbagai inovasi teknologi telah diuji untuk mendukung implementasi pendekatan tersebut. Di antaranya penggunaan feromon exi, nano-biopestisida, teknologi budi daya terlindungi melalui netting house, serta sistem irigasi tetes.
Hasil penelitian menunjukkan kombinasi netting house dan irigasi tetes mampu menekan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sekaligus menjaga produktivitas bawang merah pada kisaran 12–14 ton per hektare.
Tidak hanya itu, teknologi irigasi tetes terbukti meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk serta mampu mengurangi kebutuhan pupuk hingga sekitar 30 persen dibandingkan sistem budi daya konvensional.
Adopsi teknologi netting house oleh petani di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, bahkan menunjukkan manfaat ekonomi yang nyata karena mampu menekan biaya penggunaan pestisida antara 30 hingga 70 persen.
Workshop ini merupakan bagian dari kerja sama penelitian yang didukung Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), dengan melibatkan BRIN, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), serta Universitas Gadjah Mada (UGM).
Manajer ACIAR Indonesia, Teddy Kristedi, mengatakan bahwa kerja sama penelitian pertanian antara Indonesia dan Australia telah berlangsung sejak 1982.
Indonesia merupakan mitra strategis dalam pengembangan inovasi pertanian di kawasan Indo-Pasifik. Melalui penelitian, pengembangan kapasitas, dan pertukaran pengetahuan, kami ingin memperkuat kemampuan institusi sekaligus menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara luas, kata Teddy.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi menggarisbawahi cabai dan bawang merah memiliki posisi strategis dalam sistem pangan nasional karena berpengaruh langsung terhadap ketersediaan pangan masyarakat dan stabilitas ekonomi.
Menurut Agung, berbagai tantangan masih membayangi pengembangan komoditas tersebut, mulai dari perubahan iklim, meningkatnya serangan OPT, tingginya biaya produksi, kehilangan hasil pascapanen, hingga belum optimalnya efisiensi rantai distribusi.
