Darilaut – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyebutkan titik panas (hotspot) di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menurun.
Data terbaru menunjukkan hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat turun signifikan. Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat operasi pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas.
Pemantauan pada 10 September menunjukkan Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan hotspot tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence terbanyak, sementara perkembangan positif terpantau di Kalimantan Barat yang mengalami penurunan cukup signifikan.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Kamis (10/9) pukul 21.05 WIB, secara nasional terdeteksi 569 hotspot high confidence.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 395 titik pada 9 September 2026. Enam provinsi prioritas, hotspot high confidence tercatat di Kalimantan Tengah 96 titik, Kalimantan Barat 39 titik, Sumatera Selatan 34 titik, Riau 18 titik, Kalimantan Selatan 9 titik dan Jambi 2 titik.
Penurunan paling menonjol terjadi di Kalimantan Barat, dari 134 menjadi 39 hotspot high confidence. Sementara itu, Kalimantan Tengah dengan 96 titik menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak di antara enam provinsi prioritas sehingga penguatan patroli, groundcheck, pemadaman, dan dukungan operasi udara terus dilakukan.
Perkembangan hotspot tersebut masih bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca maupun kondisi bahan bakar di lapangan.
Kemenhut menjelaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.
Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan di lapangan.
Menurut Kemenhut, khusus pada ekosistem gambut, pembasahan dan pendinginan terus menjadi perhatian karena bara dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api tidak lagi terlihat.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta para pihak lainnya terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, serta pendinginan pada lokasi yang masih berpotensi mengalami penyalaan kembali.
Pemerintah juga tetap menyiagakan 53 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Dari jumlah tersebut, 34 armada digunakan untuk operasi water bombing, sementara 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC.
Pengerahan armada udara dilakukan berdasarkan hasil pemantauan hotspot, verifikasi kondisi lapangan, perkembangan kebakaran, serta kondisi meteorologis. OMC tetap disiagakan untuk memanfaatkan potensi awan yang memenuhi persyaratan guna membantu pembasahan lahan dan mendukung operasi pengendalian.
