Darilaut – Topan super (Super Typhoon) Surigae telah melemah menjadi badai tropis (Tropical Storm) di Dekat Jepang. Sistem ini bergerak ke timur laut dan diperkirakan akan terus melemah menjadi siklon ekstratropis.
Pada Rabu (30/9) sore Surigae terletak 434 km Tenggara Osaka atau 443 km selatan barat daya Tokyo.
Badan Meteorologi Jepang – Japan Meteorological Agency (JMA), Senin, mengatakan Surigae mengarah ke timur laut dengan kecepatan 20 km per jam (12 knot).
Tekanan udara pada pusatnya 1000 hPa (hektopaskal).
Kecepatan angin maksimum 18 meter per detik (35 knot), sedangkan kecepatan angin instan maksimum 25 meter per detik (50 knot), kata JMA. Area angin kencang dengan kecepatan 30 knot atau lebih berada di seluruh area 165 km (90 NM).
Menurut Observatorium Hong Kong — Hong Kong Observatory (HKO), pada Rabu pukul 16.00, pusat Badai Tropis Surigae berada sekitar 460 kilometer di tenggara Osaka. Badai ini diperkirakan akan bergerak ke arah timur laut dengan kecepatan sekitar 22 kilometer per jam melintasi perairan di selatan Jepang.
Surigae telah bergerak ke arah timur laut dengan kecepatan 24 km per jam (13 knot) selama 6 jam terakhir. Tinggi gelombang signifikan maksimum mencapai 4,9 meter (16 kaki), menurut Pusat Peringatan Topan Gabungan — Joint Typhoon Warning Center (JTWC).
Surigae akan bergerak lebih cepat ke arah timur laut dan menyelesaikan transisi ekstratropis selama periode prakiraan.
JTWC memperkirakan sistem ini akan mulai bergabung dengan trough gelombang pendek (shortwave trough) di lapisan atmosfer atas dalam waktu 12 jam, yang akan memicu proses transisi tersebut.
Dalam waktu 24 jam, sistem ini akan sepenuhnya bergabung dengan trough tersebut dan menyatu ke dalam pola aliran angin barat (westerly flow) di wilayah lintang menengah.
Surigae diperkirakan akan mempertahankan intensitasnya karena adanya aliran divergen yang kuat di lapisan atas dan pergerakan melintasi perairan hangat selama 12 jam ke depan, serta akan tetap stabil atau sedikit meningkat intensitasnya berkat dukungan baroklinik yang menguntungkan, kata JTWC.
