Ia menambahkan bahwa guru perlu menjadi agen penting dalam menanamkan kecakapan digital yang sehat di lingkungan sekolah.
Dukungan serupa disampaikan oleh Juwair, Kepala Tim Kurikulum dan Evaluasi Kementerian Agama Wilayah Jawa Tengah. Menurutnya, literasi media dan informasi sangat relevan diterapkan dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat memahami informasi secara kritis dan bijaksana.
“Guru harus memberi bekal literasi pada siswa, dan kami sangat terbuka terhadap inisiatif UNESCO.”
Ia berharap kemitraan ini dapat memperkaya materi pembelajaran sekaligus memperkuat kapasitas pendidik di sekolah agama.
Dari pihak UNESCO, Yekthi Hesthi Murthi, Associate Project Officer Unit Komunikasi dan Informasi UNESCO Jakarta, menegaskan bahwa guru merupakan garda terdepan dalam membimbing siswa menghadapi kompleksitas ruang digital. Menurutnya, kemampuan memilah informasi, memahami kebebasan berekspresi, serta mengenali konten berbahaya merupakan keterampilan utama yang perlu diberikan di sekolah.
“Literasi media dan informasi merupakan alat bagi guru untuk membangun daya kritis murid di ruang digital.”
Sebelum diadakan workshop ini, peserta telah mengikuti serangkaian asesmen dan diskusi terfokus yang dilaksanakan di Jakarta pada 7 Oktober 2025 dan di Solo pada 9 November 2025. Diskusi tersebut menggali kebutuhan sekolah berbasis agama dalam mengintegrasikan literasi media dan informasi ke dalam kurikulum maupun kegiatan sekolah. Hasil asesmen menjadi dasar penyusunan materi workshop agar pelatihan benar-benar menjawab kebutuhan lapangan.




