Hal ini sebagai upaya meningkatkan peranan MAB-Indonesia, guna mendukung pengelolaan di cagar biosfer dalam waktu dekat.
Diskusi juga difokuskan pada perkembangan Rencana Aksi “Lima” (Lima Action Plan) Pengelolaan Cagar Biosfer 2016-2025. Serta, persiapan Kongres Cagar Biosfer Dunia ke-5 pada September 2025, di Hangzhou, Tiongkok.
Topik lainnya menjadi perhatian dalam diskusi adalah pentingnya pengelolaan sampah plastik untuk meminimalkan pencemaran lingkungan.
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, cagar biosfer sangat penting sebagai model pembangunan berkelanjutan. Keberadaannya mengintegrasikan upaya konservasi dengan kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat lokal.
Dengan mengoptimalkan kolaborasi multipihak, ”kita dapat meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati, sekaligus meningkatkan ketahanan sosio-ekonomi sekitar cagar biosfer. Juga, memastikan keberlanjutan dan efektivitas pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan,” kata Handoko.
Pertemuan SeaBRnet ke-15 bertujuan mendorong pertukaran pengetahuan, berbagi informasi terbaru, dan mengadakan dialog strategis kontribusi MAB di Asia Tenggara.
Pertemuan ini juga menekankan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati. Serta, memperkuat kolaborasi dan jaringan regional antara cagar biosfer, peneliti, pengambil kebijakan, dan organisasi masyarakat lokal, dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) 2030.




