Darilaut – Potensi hujan sedang – lebat yang dapat disertai kilat/petir serta angin kencang dapat terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.
Kepala Pusat Meteorologi Publik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Andri Ramdhani, mengatakan, secara umum, kombinasi fenomena-fenomena cuaca diprakirakan menimbulkan potensi cuaca signifikan dalam periode 18 – 25 Juli 2024.
Di antaranya berupa hujan sedang – lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang terdapat di wilayah Sumatera Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan angin kencang di wilayah Banten, Jawa Barat, NTB, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Tengah,” paparnya.
Berdasarkan pantauan BMKG, terdapat daerah tekanan rendah di perairan barat Filipina (bibit Siklon Tropis 91W) dan di Laut Filipina sebelah utara Papua (bibit Siklon Tropis 92W).
Andri menjelaskan bahwa daerah tekanan rendah ini membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang dari Laut Filipina bagian barat, Laut Sulawesi hingga perairan timur Filipina.
Daerah konvergensi lainnya terpantau di Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara bagian barat, Laut Seram, Laut Arafuru, dan Samudera Pasifik sebelah utara Papua.
“Kondisi ini mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar daerah tekanan rendah dan di sepanjang daerah yang dilewati konvergensi tersebut,” ujarnya.
Fenomena intrusi udara kering/dry intrusion dari BBS melintasi wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku, yang mampu mengangkat uap air basah di depan batas intrusi menjadi lebih hangat dan lembab di Sulawesi bagian tengah, Maluku, dan Pulau Papua.
Andri mengatakan peningkatan kecepatan angin hingga mencapai >25 knot, juga terpantau di Laut Andaman, Laut Cina Selatan, Samudera Hindia sebelah barat daya, hingga selatan Jawa Barat, Laut Jawa bagian tengah dan timur, Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, Laut Halmahera, dan Laut Maluku yang mampu meningkatkan tinggi gelombang di wilayah sekitar perairan tersebut.
Sedangkan, labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal terdapat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Papua Barat, Papua Tengah, Papua dan Papua Pegunungan.
BMKG mengimbau kepada masyarakat di wilayah tersebut, untuk senantiasa waspada dan siap-siaga.
“Utamanya apabila sedang berkendara ketika angin kencang terjadi karena dapat mengakibatkan baliho dan pohon tumbang atau menerbangkan material-material berbahaya,” kata Andri.
Sementara itu, bibit Siklon Tropis 91W dan bibit Siklon Tropis 92W di Laut Filipina sebelah utara Papua telah berkembang menjadi Depresi Tropis (Tropical Depression), Sabtu (20/7).
Dua depresi tropis tersebut berada di barat dan timur Filipina.
Menurut Pusat Peringatan Siklon Tropis Bersama – Joint Typhoon Warning Center (JTWC), depresi tropis 04W dengan nama lokal Filipna “Butchoy” berada 572 km sebelah barat Manila, Filipina.
Sistem ini berada di Laut Cina Selatan atau Laut Filipina Barat, sedang bergerak ke barat-barat laut dengan kecepatan 20 km per jam (11 knot) selama 6 jam terakhir.
Sementara depresi tropis 05W dengan nama lokal Filipina “Carina” yang berada di Laut Filipina, selama enam jam terakhir, telah bergerak ke barat laut dengan kecepatan 30 km per jam (16 knot).
