Evolusi Kapal Layar Padewakang

Evolusi perahu di Sulawesi Selatan. Sumber: Aziz Salam dan Osozawa Katsuya (2008)

PERAHU layar Bugis-Makassar mengalami perkembangan sejak abad ke 16. Transformasi perahu layar ini dimulai dari pangajava atau paqtaripang.

Perahu dengan tipe satu layar ini digunakan sesuai komoditas yang diburu di laut. Selanjutnya, evolusi perahu layar pangajava/paqtaripang berkembang menjadi padewakang (paqdewakang).

Menurut ahli perkapalan Dr Aziz Salam, M.Agr, paqdewakang yang digunakan nelayan Bugis-Makassar hingga ke Australia untuk berburu teripang dan komoditas laut lainnya.

Saat ini, kapal layar tradisional padewakang “Nur Al Marege” mengukir kembali jejak pelaut Bugis-Makassar di Australia. Kapal layar ini telah tiba di Darwin, Australia, Selasa (28/1). Kapal padewakang berangkat dari Makassar 8 Desember 2019.

Menurut Aziz, paqdewakang adalah perahu layar asli Indonesia dari Bugis-Makassar.

Aziz mendalami transformasi perahu dan kapal di Sulawesi Selatan ketika masih kuliah S1 di Fakultas Teknik, Jurusan Perkapalan, Universitas Hasanuddin. Penelitian ini dilanjutkan kembali melalui pendidikan S2 dan S3 di Universitas Ehime, Jepang.

Pada 1900, paqdewakang dengan dua layar mengalami perubahan menjadi palari. Perahu palari memiliki tujuh layar.

Perkembangan kapal dagang di Sulawesi Selatan mengalami evolusi tahap demi tahap. Palari memiliki layar yang sama dengan pinisi, tetapi body berbeda.

Bentuk tujuh layar yang ada pada pinisi, menurut Aziz, memiliki kemiripan dengan perahu layar yang ada di Amerika dan Perancis. “Semua jenis perahu di Sulawesi Selatan mengalami evolusi atau perubahan bentuk,” ujar Aziz, yang saat ini sebagai Ketua Program Studi Ilmu Kelautan dan Perikanan S2 Pascasarjana di Universitas Negeri Gorontalo.

Evolusi perahu layar di Sulawesi Selatan

Perahu Pangajava atau Paqtaripang, 1500-an.

Paqdewakang, 1700-an.

Palari, 1900 – 1950.

Pinisi, 1930 – 1970.

Pinisi tipe Kapal Layar Motor (KLM), 1980 – sampai sekarang.*

Exit mobile version