Jakarta – Untuk mendapatkan informasi penting mengenai Arus Lintas Indonesia dan potensi keanekaragaman hayati laut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), The First Institute of Oceanography Tiongkok dan Departement of Atmospheric and Oceanic Science University Of Maryland Amerika Serikat melakukan riset laut dalam bersama.
Seperti dilansir Lipi.go.id, penelitian Transport Indonesian Seas, Upwelling, Mixing Physics (TRIUMPH) ini berlangsung sejak Senin (18/11) sampai Rabu (25/12) di perairan selatan Jawa, Selat Bali sampai ke Selat Makasar. Penelitian ini dengan menggunakan kapal riset Baruna Jaya VIII milik LIPI.
“Jika kita bicara Indonesia, maka mayoritas adalah laut. Tetapi hingga saat ini kita belum mengoptimalkan laut menjadi kekuatan besar bagi Indonesia, tidak hanya dalam kerangka riset tetapi dalam kerangka kejayaan Indonesia,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti, Senin (18/11) di Jakarta.
Menurut Nuke, kegiatan penelitian ini menjadi penting karena memproduksi ilmu pengetahuan dan mengungkap data untuk kepentingan sendiri maupun kepentingan internasional. “Tantangan berikutnya adalah membangun kolaborasi berbagai disiplin ilmu,” katanya.
Riset TRIUMPH sudah dilakukan sejak tahun 2017. Pelayaran pertama pada 2018 menggunakan kapal milik Kementerian Kelautan dan Perikanan dan tahun ini dengan kapal riset Baruna Jaya VIII.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI, Nugroho Dwi Hananto mengatakan, kerja sama ini diwadahi Konsorsiun riset samudera yang berdiri sejak 27 September 2017, di dalamnya tergabung seluruh instansi dan perguruan tinggi yang melakukan riset samudera di Indonesia. Tiga hal yang dilakukan konsorsium ini adalah pada program, infrastruktur, dan pendanaan.
Menurut Nugroho, keanekaragaman hayati dan non hayati yang besar menjadikan Indonesia sebagai daerah penelitian bagi hampir seluruh peneliti oseanografi di dunia. “Untuk itu kita perlu berkoordinasi dalam bidang program agar masing-masing institusi di Indonesia ini dapat saling bekerja sama untuk lebih memantapkan pengetahuan mengenai kekayaan alam Indonesia,” ujarnya.
Melalui konsorsium ini diharapkan infrastruktur di Indonesia menjadi lebih baik.
Nugroho mengatakan, tujuan pelayaran TRIUMPH ini adalah untuk mengetahui pola lintas arus di Indonesia terhadap cuaca, pola iklim, dan biodiversitas yang ada. Peluang mendapatkan spesies baru sangat terbuka lebar, karena belum ada orang yang ke sana.
Riset TRIUMPH juga akan menggali interaksi samudera dan atmosfer yang penting untuk memperluas horizon pengetahuan Indonesia tentang pergaruh dinamika samudera dan atmosfer yang sangat mempengaruhi pola cuaca dan iklim Indonesia.
“Dampak El Nino dan La Nina belum banyak diketahui. Data dan informasi hasil riset ini akan sangat berguna untuk menyusun strategi dan mitigasi perubahan dampak perubahan iklim tersebut,” ujar Nugroho.
Chief Scientist University of Maryland, Dwi Susanto mengatakan, penelitian ini dapat melengkapi data kelautan Indonesia yang masih belum lengkap.
“Ekspedisi ini sangat mendukung The Decade of Ocean Science for Sustainable Development dari PBB. Semakin banyak data yang dimiliki akan semakin banyak potensi kelautan yang kita ketahui. Data tersebut selanjutnya dapat ditransformasi ke perekonomian kita,” kata Susanto.
Pelayaran penelitian TRIUMPH direncanakan akan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama melipute rute perairan Teluk Jakarta, Selat Sunda, perairan Selatan Jawa, sampai berlabuh di pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam kegiatan yang berlangsung sampai tanggal 2 Desember ini ini dilakukan akusisi dan pengolahan data oseanografi, biota laut dan cuaca serta perawatan Mooring.
Penelitian akan dilanjutkan dari Banyuwangi menuju Selat Makassar dengan rute Selat Bali – Selat Badung- Selat Lombok – Selat Alas – Selat Makassar lalu kembali menuju pelabuhan Muara Baru, Jakarta. Di etape ini, para peneliti akan melakukan akusisi data oseanografi dan sampah laut selama tanggal 5 – 24 Desember.*
