Kamis, Oktober 15, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Kajian

Penelitian Terbaru, Ikan Tuna di Samudera Hindia Lebih Tercemar Merkuri

redaksi
10 September 2019
Kategori : Kajian
0
Penelitian Terbaru, Ikan Tuna di Samudera Hindia Lebih Tercemar Merkuri

Yellowfin tuna FOTO: DARILAUT.ID

KOMODITI tuna dan tuna-like memiliki nilai ekonomis bagi Indonesia. Namun, logam berat dapat terakumulasi di biota ini karena posisinya sebagai top predator.

Penelitian yang ditulis Tri Handayani, Mohamad Syamsul Maarif, Etty Riani dan Nazori Djazuli menganalisis 895 data sekunder hasil pengujian merkuri yellowfin tuna (Thunnus albacares), bigeye tuna (Thunnus obesus) dan swordfish (Xiphias gladius), yang merupakan data official control oleh Badan Karantina, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM).

Penelitian ini dengan judul “Kandungan Logam Berat Merkuri pada Ikan Tuna.” Hasil penelitian terbaru ini dipublikasi di Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14 No 1 Tahun 2019: 35-44.

Ekspor tuna dan tuna-like Indonesia tahun 2014 sebesar 203.444 ton dengan nilai mencapai 677.900 USD (KKP, 2017).

Di lain pihak, ikan dapat terkontaminasi oleh metil merkuri, yaitu bentuk merkuri yang sangat beracun dan mempunyai dampak buruk pada kesehatan, salah satunya perkembangan syaraf anak-anak (Llop et al., 2017).

Merkuri (Hg) adalah logam berat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, yang dapat merusak atau menurunkan fungsi sistem syaraf pusat, merusak komposisi darah, paru-paru, ginjal dan organ vital lainnya, apabila terkonsumsi melebihi ambang batas (Darmono, 1995), merusak organ tubuh (Riani, 2015) dan dapat mengakibatkan cacat bawaan pada embrio yang dilahirkan (Riani, Sudarso & Cordova, 2014).

Halaman 1 dari 4
12...4Selanjutnya
Tags: Komoditi Hasil Lautmerkuriperikanan tunaSumberdaya Ikan
Bagikan20Tweet10KirimKirim
Previous Post

3 Bulan Tak Digaji di Iran, 5 ABK Dipulangkan ke Indonesia

Next Post

Distribusi Barang Tol Laut Harus Transparan

Postingan Terkait

Iklan Tidak Membeli Pemberitaan

Media Beretika Bukan Media yang Tidak Pernah Salah

15 Oktober 2026
Terlalu Banyak Media Pembelajaran, Belum Tentu Lebih Mudah Belajar Bahasa Inggris

Mengapa Belajar Bahasa Inggris Terasa Melelahkan?

12 Oktober 2026

Mengapa PKI Tak Laku di Gorontalo?

Menjadi Fasih Itu Bukan Soal Banyaknya Kata yang Dikuasai

Terlalu Banyak Media Pembelajaran, Belum Tentu Lebih Mudah Belajar Bahasa Inggris

Sudah Saatnya Kita Memikirkan Ulang Pembelajaran Bahasa Inggris

Senjakala Elite Nasional Gorontalo

Iklan Tidak Membeli Pemberitaan

Next Post
Distribusi Barang Tol Laut Harus Transparan

Distribusi Barang Tol Laut Harus Transparan

Komentar tentang post

TERBARU

UNICEF Peringatkan 190 Juta Anak di Asia dan Pasifik Menghadapi Risiko Iklim Akibat El Niño

Media Beretika Bukan Media yang Tidak Pernah Salah

59 Daerah di Pulau Sulawesi Peringatan Dini Kekeringan Kategori Awas

21 Daerah di Gorontalo dan Sulawesi Utara Mengalami Kekeringan Kategori Awas

Sejumlah Negara ASEAN Sepakat Lindungi Karya Jurnalistik dari Eksploitasi Platform Digital dan AI

Kondisi El Niño Sangat Kuat Memengaruhi Musim Dingin di Asia Selatan

AmsiNews

REKOMENDASI

AMSI Kembali Menggelar Indonesian Digital Conference 2020

Edukasi Indikator Kerja Paksa dan Perdagangan Orang Bagi Taruna Perikanan

Bibit 93W di Laut China Selatan Berpotensi Tinggi Menjadi Siklon Tropis

Disinformasi Pemilu 2024, Koalisi Masyarakat Sipil Mendorong Moderasi Konten Digital

Mengatasi dan Mengakhiri Polusi Plastik Secara Global

KNKT Investigasi Penyebab Kecelakaan Pesawat Sam Air di Pohuwato

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.