Senin, September 14, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Kajian

Physalia physalis, Spesies Ubur-Ubur Paling Berbahaya di Laut

redaksi
25 Agustus 2021
Kategori : Kajian, Kesehatan
0
Warga Sumatera Barat Tersengat Ubur-ubur Bluebottle, 8 Masuk Rumah Sakit

Ubur-ubur Bluebottle di Australia. FOTO: KIM COLVILLE VIA ABC.NET.AU

Darilaut – Banyak jenis ubur-ubur. Namun ubur-ubur yang satu ini paling berbahaya di laut: Physalia physalis.

Orang Indonesia mengenal spesies Physalia physalis dengan sebutan ubur-ubur api. Terdapat pula beberapa penamaan di daerah, seperti krawe, leteh, atau impes.

Dalam bahasa Inggris, hewan ini dikenal dengan “the-portuguese man-of-war”, “man-of-war” atau “pacific-man-of-war”.

Sebelum pandemi Covid-19, setiap tahun diperkirakan terjadi 150 juta kasus serangan ubur-ubur pada manusia di dunia dan ubur-ubur api diyakini memiliki kontribusi besar atas sejumlah kasus tersebut.

Di negara bagian Queensland, Australia, misalnya, dilaporkan terjadi hingga 47.785 kasus serangan ubur-ubur api selama kurun waktu 2018–2019. Di Australia, ubur-ubur api dikenal dengan “the bluebottle”.

Ubur-ubur api dikenal sebagai salah satu anggota Filum Cnidaria yang paling berbahaya di laut. Filum ini dikenali dari ciri khasnya, yaitu memiliki sel cnidocyte (knidosit) pada tubuhnya.

Menurut peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mochamad Ramdhan Firdaus, knidosit adalah sel penyengat yang digunakan untuk menangkap mangsa atau melindungi diri dari musuh. Pada ubur-ubur api, sel ini dikenal dengan nama nematocyst (nematosit).

Halaman 1 dari 5
12...5Selanjutnya
Tags: AustraliaGunung KidulJellyfishLIPISengatan Ubur-uburSumatera BaratUbur-uburYogyakarta
Bagikan30Tweet19KirimKirim
Previous Post

Kapal Perikanan Spanyol Tenggelam di Senegal, 7 ABK Dipulangkan ke Indonesia

Next Post

Temuan Spesies Baru Krustasea di Garis Wallace Lombok

Postingan Terkait

Terlalu Banyak Media Pembelajaran, Belum Tentu Lebih Mudah Belajar Bahasa Inggris

Terlalu Banyak Media Pembelajaran, Belum Tentu Lebih Mudah Belajar Bahasa Inggris

7 September 2026
Peneliti UNG Riset Kulit Jeruk Nipis Berpotensi Jadi Terapi Alami

Peneliti UNG Riset Kulit Jeruk Nipis Berpotensi Jadi Terapi Alami

6 September 2026

Aroma Terapi Dari Minyak Atsiri Kulit Jeruk Nipis Dapat Redakan Kecemasan Ibu Hamil

Sudah Saatnya Kita Memikirkan Ulang Pembelajaran Bahasa Inggris

Virus Ebola Kian Cepat Menyebar

Ebola Mengganas, Setiap 30 Menit Satu Orang Tewas

Peneliti UNG Temukan Cara Menangkal Nyamuk Malaria Dengan Rambut Jagung dan Daun Pepaya

Senjakala Elite Nasional Gorontalo

Next Post
Temuan Spesies Baru Krustasea di Garis Wallace Lombok

Temuan Spesies Baru Krustasea di Garis Wallace Lombok

Komentar tentang post

TERBARU

Survei Meteo-Oseanografi di Selat Sunda Penting Untuk Mendukung Keselamatan Pelayaran dan Aktivitas Masyarakat

KMP Virgo Transport 8 Tidak Kelebihan Muatan, KNKT Akan Investigasi Menyeluruh

Bulan Agustus Terpanas Sepanjang Sejarah, El Niño Memicu Kebakaran Hutan di Indonesia

Mahasiswa Fakultas Teknik UNG Raih Gold Medal dan 1st Runner Up Kompetisi Esai Internasional di Malaysia

130 Orang Penumpang KMP Virgo Transport 8 Dalam Pencarian di Perairan Masalembo

8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda Termasuk 5 Jurnalis Masih Dalam Pencarian

AmsiNews

REKOMENDASI

Pertama Kali Tuna Sirip Biru Berat 230 Kg Diturunkan di Pelabuhan Perikanan Gorontalo

Fokus Polusi Plastik, 150 Negara Berpartisipasi di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Paus Jenis Mesoplodon densirostris Terdampar di Sabu Raijua NTT

Bibit Siklon Tropis 95W Bergerak di Utara Jayapura

Warga Bunaken Dapat Pelatihan Cara Mengolah Sampah dan Hidroponik

90S Berkembang di Laut Timor, 94W Dekat Papua

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.