Rantai Pasok Perikanan dan Tantangan yang Dihadapi Nelayan di Indonesia

Dr Lis Melissa Yapanto. FOTO: ISTIMEWA

Oleh: Dr Lis Melissa Yapanto, S.Pi MM

SEPERTI yang kita semua ketahui bahwa Indonesia adalah negara kepulauan di mana masing-masing pulau yang ada di Indonesia dihubungkan oleh laut dan menjadi negara kepulauan terbesar di dunia.

Luas total wilayah Indonesia adalah 7,81 juta km2, di mana 3,25 juta km2 adalah lautan dan 2.01 juta km2 adalah daratan. Sebab itulah Indonesia disebut juga sebagai Negara Maritim karena luas lautan lebih besar daripada luas daratan.

Sebagai negara maritim sudah barang tentu Indonesia memiliki kekayaan laut yang sangat besar. Di antaranya adalah terumbu karang yang mencapai 50.857 km2 yang merupakan 18 persen dari luas total terumbu karang di dunia. Selain itu Indonesia juga memiliki potensi kekayaan pangan hasil laut yang melimpah berupa ikan, rumput laut, kepiting, udang, dan sumber pangan laut lainnya.

Kekayaan Laut Indonesia yang Melimpah

Sangat banyak komoditas perikanan yang dihasilkan oleh Indonesia. Produk rumput laut dan tuna dari Indonesia menempati posisi pertama di dunia, dengan posisi kedua adalah sebagai penghasil udang dan kepiting.

Komoditas perikanan ini didapat dari berbagai daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan kekayaan komoditas perikanan ini maka sektor perikanan dan laut menjadi salah satu sumber supply dalam rantai pasok perikanan di Indonesia.

Rantai Pasok Perikanan

Gambar: https://seafood-tip.com/sourcing-intelligence/countries/indonesia

Rantai pasok adalah sebuah jaringan perusahaan-perusahaan atau orang per orang yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan mengantarkan produk ke tangan pemakai akhir.

Bila rantai pasok adalah jaringan fisik, yaitu perusahaan, lembaga, atau kelompok yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi sampai mengirimkan ke pemakai akhir, maka metode, alat, atau pengelolaan pasokan disebut sebagai manajemen rantai pasok (Pujawan dan Mahendrawathi, 2010).

Heizer & Rander (2004), mendefinisikan Supply Chain Management (Manajemen Rantai Pasokan) sebagai kegiatan pengelolaan dalam rangka memperoleh bahan mentah menjadi barang dalam proses atau barang setengah jadi dan barang jadi kemudian mengirimkan tujuh produk tersebut ke konsumen melalui sistem distribusi. Kegiatan-kegiatan ini mencangkup fungsi pembelian tradisional ditambah kegiatan penting lainnya yang berhubungan antara pemasok dengan distributor.

Tujuan utama supply chain management adalah untuk memenuhi permintaan pelanggan melalui penggunaan sumber daya yang pailng efisien, termasuk kapasitas distribusi, persediaan, dan sumber daya manusia. bila dihubungkan dengan dunia perikanan, maka rantai pasok perikanan adalah kegiatan yang dimulai dari nelayan sebagai produsen bahan mentah sampai ke konsumen akhir sebagai pembeli.

Dalam rantai pasok perikanan ini nelayan bisa menjual langsung hasil tangkapan ke pembeli saat masih di lingkungan pantai atau pelabuhan dengan sistem penjualan langsung atau dari pintu ke pintu sehingga memotong alur rantai pasokan.

Langkah kedua bila akan menjual ke pasar, maka akan ada banyak kombinasi pelaku rantai menengah yang terlibat seperti pengolah utama, pedagang, grosir, pengolah, pengolah sekunder, distributor, pengangkut dan lain sebagainya. Semua komponen ini bergerak untuk mengemas, mengubah atau mentransformasi, sampai memindahkan produk dari titik produksi ke proses akhir yaitu pembeli.

Kendala rantai pasok perikanan di Indonesia saat ini

Sebagai negara maritim terbesar di dunia, Indonesia masih memiliki beberapa kendala untuk memenuhi rantai pasok perikanannya. Kendala-kendala tersebut ada yang sudah lama terjadi dan ada juga beberapa kendala baru yang harus dihadapi. Secara langsung atau tidak langsung semua permasalahan ini berdampak terutama kepada nelayan selaku produsen.

• Sarana dan prasarana yang masih belum merata untuk seluruh nelayan yang ada di Indonesia. Sebagai salah satu contoh, Sulawesi Utara tepatnya di perairan Bitung dan Manado para nelayan masih sulit mendapatkan hasil tangkapan ikan yang memadai karena sarana yang masih sangat kurang. Mulai dari kapal dan Alat tangkap, sarana pengawetan ikan misalnya es balok, BBM yang menyebabkan harga BBM menjadi naik karena, sampai kapasitas pendingin (cold storage) dapat memenuhi kapasitas maksimal 50 persen dari yang dibutuhkan.

• Kesenjangan antara nelayan besar dan nelayan kecil. Hal ini disebabkan oleh belum adanya koordinasi yang baik antara sesama nelayan, dan juga cara pemasaran yang masih menggunakan cara tradisional. Sedangkan nelayan besar sudah bekerjasama dengan perusahaan.

• Kendala proses distribusi dan pengiriman ikan. Proses pengiriman ikan dari daerah, seringkali hanya dimungkinkan dengan menggunakan transportasi laut. Sedangkan transportasi modern masih belum merata sampai ke pelosok daerah.

• Pengawasan mutu ikan yang dihasilkan masih rendah di beberapa daerah. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya nelayan yang belum mengerti mengenai pengawasan kualitas produk. Kemudian masih sangat bergantung dengan kondisi iklim dan cuaca Karena masih banyak menggunakan cara penangkapan ikan tradisional.

• Kendala terbaru yang harus dihadapi oleh nelayan adalah kondisi pandemi Covid-19. Menurut Direktur Jenderal perikanan Tangkap kementerian Kelautan dan Perikanan M. Zulficar Mochtar, sejak pandemi terjadi di saat awal Maret 2020 nelayan dan pelaku usaha perikanan sudah mengalami kerugian. Hal ini dikarenakan proses penangkapan ikan masih terus berlangsung, sedangkan permintaan pasar sudah jauh menurun. Kondisi ini menyebabkan penurunan pendapatan nelayan yang sangat signifikan akibat hasil tangkapan ikan yang diperoleh tidak dapat terjual. Kerugian ini dirasakan baik oleh nelayan kecil maupun nelayan besar.

Saran untuk menghadapi kendala yang ada

• Perbaikan sarana dan prasarana yang diadakan melalui program pemerintah. hal ini diperlukan demi meratanya kesempatan serta mengurangi kesenjangan antara nelayan besar dan nelayan kecil. Perbaikan bisa dimulai dari mengganti alat tangkap ikan yang masih menggunakan metode manual, juga distribusi BBM yang merata sehingga nelayan mudah untuk melakukan pekerjaannya tanpa dibebani oleh sulitnya mendapatkan BBM.

• Membentuk Koperasi nelayan. Koperasi berfungsi untuk mewadahi para nelayan dan meningkatkan kolaborasi sehingga posisi tawar nelayan terutama nelayan kecil dan tradisional dapat lebih tinggi.

• Jaringan logistik perikanan yang berbasis pelabuhan. Hal ini diperlukan untuk memperbaiki proses distribusi dan kolaborasi antara pelaku rantai pasok perikanan. Pemerintah juga harus lebih terlibat dalam menyediakan sistem yang sehat dan adil.

• Memberikan pelatihan kepada nelayan mengenai metode penanganan hasil tangkapan. Agar kualitas tangkapan nelayan memiliki harga yang lebih tinggi sehingga berpengaruh positif terhadap pemasukan nelayan. kualitas yang tinggi dari produsen atau nelayan akan memiliki dampak positif ke seluruh mata rantai pasok.

• Jaring pengaman sosial dan ekonomi bagi para nelayan dan masyarakat pesisir agar dapat bertahan menghadapi kondisi pandemi saat ini. Selain bantuan sosial sebaiknya ada stimulus ekonomi yang jelas demi menjamin keberlangsungan hidup nelayan.*

Lis Melissa Yapanto adalah Dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Gorontalo.

Sumber referensi:

Bortiandy Tobing, S.T., MMT. 2015. Rantai Pasok Pangan (Food Supply Chain)

http://digilib.unila.ac.id/178/12/BAB%20II.pdf. Definisi Rantai Pasok.

reefresilience.org/id. 2020. Making Sense of Wild Seafood Supply Chains

Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2018. Laut Masa Depan Bangsa. Kedaulatan, Keberlanjutan, Kesejahteraan. Penerbit Buku Kompas. Jakarta

Regino Jansen & Jacky S.B. Sumarauw. 2016. Analisis Rantai Pasokan Hasil Tangkapan Ikan di Kota Manado dan Kota Bitung. Universitas Sam Ratulangi.

Ambari, M. 2020. Pasokan Ikan Berlebih tapi Tak Ada yang Beli. www.mongabay.co.id

Siti Chairiyah Batubara dkk. 2017. The Ideal Model of Supply Chain Management of Sustainability Industrial Capture fisheries in Maluku Province. Marine Fisheries Vol. 8, No. 2, November 2017 Hal: 137-148. http://journal.ipb.ac.id

Exit mobile version