Hiu Paus Bisa Makan Tumbuhan Laut dan Berpuasa?

Hiu paus

Hiu paus. FOTO: DARILAUT.ID

HIU PAUS (whale shark) ternyata bisa memakan tumbuhan laut. Sebelumnya, hiu paus –salah satu ikan terbesar – dianggap sebagai karnivora.

Hiu paus bisa memakan tanaman merupakan hasil penelitian ilmuwan Jepang, yang dipublikasikan kemarin (16/1) di jurnal Ecological Monographs. Ilmuwan Jepang menemukan hiu paus tidak sepenuhnya karnivora. Mereka memakan campuran ikan dan tumbuhan laut.

Apakah makanan ini karena pilihan atau tidak dapat menemukan makanan lain?

Sejauh ini, hiu paus termasuk ikan yang terancam punah, menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN). Jumlahnya terus berkurang akibat aktivitas manusia, seperti pengeboran minyak lepas pantai, tertangkap jaring secara tidak sengaja, diburu untuk kepentingan komersial dan kegiatan wisata.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan dari Universitas Tokyo mengambil sampel darah dan jaringan dari tiga hiu paus yang tinggal di Akuarium Okinawa Churaumi di Okinawa, Jepang. Kemudian delapan hiu paus yang tertangkap dalam jaring ikan di lepas pantai, selanjutnya dilepas kembali ke laut.

Hiu paus yang hidup di akuarium diberi makanan yang terdiri dari dua spesies krill, dengan suplemen cumi-cumi, ikan dan udang. Para peneliti mengambil sampel mereka enam kali selama 2012. Seperti yang diharapkan para peneliti, sampel jaringan hiu paus menunjukkan bahwa hiu paus makan daging. Dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa hiu paus berpuasa selama dua hingga tiga hari.

Hiu paus yang tertangkap di lepas pantai diambil sampelnya tahun 2015 dan 2016. Berdasarkan sampel darah dan jaringan yang diambil menunjukkan bahwa sekitar setengah dari makanan mereka berasal dari sumber tanaman, seperti ganggang atau rumput laut.

Bisa jadi, tanaman yang dimakan ini bagian yang normal dari biologi hiu paus. Namun, ilmuwan masih terbatas pengetahuannya soal hiu paus.
Dua dari delapan hiu paus ini tampak kelaparan atau berpuasa pada saat sampel diambil.

Hiu paus hidup di perairan khatulistiwa. Ahli biologi dari Universitas Tokyo yang juga penulis utama dalam studi ini Alex Wyatt, hiu hiu paus mungkin tidak makan saat bermigrasi. Di akurium, hiu paus berpuasa dan bisa menolak makanannya.

Para ilmuwan juga telah menemukan hiu paus yang terdampar, terdapat tanaman di perutnya.

Namun, hal ini bisa menjadi tanda bahwa hiu paus menghadapi kesulitan.

“Jika hiu paus sebagai omnivora sebagai respons karena mangs yang berkurang, tekanan karena penangkapan ikan atau perubahan iklim, ini memiliki implikasi konservasi yang signifikan,” kata Wyatt, seperti dikutip Qz.com.

Barangkali hiu paus memerlukan lebih banyak upaya konservasi dan lebih banyak perlindungan hukum karena penangkapan ikan.

Di perairan Botubarani, Gorontalo, hiu paus memakan limbah kepala dan daging udang. Bila kepala dan kulit udang ini dibuang, hiu paus mengisap makanan tersebut.

Telah dicoba memberikan makanan berupa daging ikan pelagis yang dipotong-potong kecil, namun tidak dimakan hiu paus.

Belum banyak yang diketahui mengenai biologi hiu paus. Namun, ikan terbesar di perairan laut ini sering terlihat di perairan Botubarani dan tempat lain di Teluk Tomini.

Januari 2019 hiu paus terlihat di perairan Botubarani. Namun, belum menetap di perairan itu.

Sejak 2016, di lokasi ini telah dijadikan destinasi wisata hiu paus. Hiu paus dapat dilihat dari atas perahu atau dengan cara menyelam.

Hiu paus (Rhincodon typus), sejak 1999 ditetapkan dalam Apendiks II Convention on Migratory Species (CMS). Artinya, hiu paus baru akan ‘merasakan’ dampak yang signifikan bila perlindungan dan pengelolaannya diterapkan melalui kerja sama internasional.

Upaya konservasi spesies ini dilakukan melalui jejaring antar berbagai negara.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan hiu paus sebagai jenis ikan yang dilindungi secara penuh. Penetapan ini melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu paus.*

Exit mobile version