Mengapa Hiu Paus di Indonesia Banyak Berkelamin Jantan, di Galapagos Betina?

Hiu paus di perairan Botubarani, Bone Bolango, Gorontalo. FOTO: DARILAUT.ID

Oleh: Verrianto Madjowa

Darilaut – Masih banyak misteri dan pertanyaan mengenai keberadaan hiu paus (Rhincodon typus). Bukan hanya di perairan Indonesia, tetapi juga di banyak tempat di lautan.

Di perairan Indonesia, kemunculan hiu paus dapat ditemukan di sejumlah lokasi seperti di Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah di Teluk Tomini, Kwandang Gorontalo Utara, Kalimantan Timur, Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sabang di Aceh, Situbondo dan Probolinggo di Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara.

Tempat-tempat lain di Indonesia juga dilaporkan hiu paus yang terdampar dalam keadaan mati atau hidup dan tak bisa dikembalikan ke laut lepas.

Umumnya hiu paus yang muncul di perairan Indonesia masih remaja dan berjenis kelamin jantan. Seperti di Bone Bolango, Gorontalo dan di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua.

Di perairan Gorontalo, kemunculan hiu paus dengan nama lokal munggiyango hulalo secara rutin dapat dijumpai di Botubarani. Di kawasan ini pernah terlihat satu kali individu diduga betina pada 2016, kemudian 2 juvenil (muda) di waktu yang berbeda. Setelah itu, belum terlihat atau dilaporkan adanya hiu paus betina.

Di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, memiliki kecenderungan yang sama. Telah dilakukan beberapa kali penelitian, seperti dijelaskan Toha dkk (2019), komposisi jenis kelamin hiu paus di Teluk Cenderawasih yang ditemukan adalah 36 individu jantan dan 1 individu betina. Penelitian tersebut dilakukan Himawan dkk (2014).

Ukuran hiu paus yang sering dijumpai di Teluk Cenderawasih 3 – 3.9 meter yang belum matang gonad. Ukuran terbesar hiu paus yang ditemui yaitu berkisar 6 – 6.9 meter.

Di Gorontalo, umumnya hiu paus yang terlihat dengan panjang 3 sampai 8 meter.

Hiu paus di perairan Botubarani, Bone Bolango, Gorontalo. FOTO: DARILAUT.ID

Menurut Toha dkk (2019) masih diperlukan riset lanjutan oleh para peneliti. Riset ini untuk menjawab sejumlah pertanyaan: kenapa jumlah jantan lebih banyak daripada betina?

Di berbagai tempat, betina juga jarang muncul ke permukaan. Kenapa yang datang ke Teluk Cenderawasih hanya remaja, di mana hiu paus dewasa?

Apakah hiu paus migrasi hanya mencari makan ataukah menetap? Bagaimana hiu paus kawin? Di mana habitat dan wilayah perkawinanan hiu paus? Di mana hiu paus dewasa?

Belum diketahui kenapa hiu paus migrasi jauh dan kembali ke Teluk Cenderawasih. Begitupula di perairan Gorontalo, Teluk Tomini.

Kondisi di perairan Indonesia berbeda dengan perairan Kepulauan Galapagos. Kemunculan hiu paus di perairan tersebut, kebanyakan betina yang sudah dewasa.

Seperti dalam ekspedisi Mission Blue Hope Spot kali ini di Kepulauan Galapagos. Bertahun-tahun penelitian dilakukan di kawasan tersebut. Berbagai data hiu paus telah terkumpul dari Galapagos. Namun masih menyisakan sejumlah pertanyaan.

Suatu hari, ketika tim ekspedisi Mission Blue ini sedang melakukan penyelaman, suara berisik yang khas terdengar di bawah air dan menarik perhatian.

Dr Alex Hearn, salah satu dari tim mengenal suara khas tersebut. Tak lama sumber suara khas muncul.

Itulah hiu paus (whale shark) dengan panjang sekitar 12 meter (40 feet).

Hiu paus ini berenang di atas karang Pulau Darwin, salah satu pulau paling terpencil, dan dilindungi di kepulauan Galapagos.

Sebagai satwa liar yang bermigrasi, hiu paus hanya akan akan tinggal beberapa hari. Selanjutnya bermigrasi kembali.

Dr Hearn berenang ke arah hiu paus tersebut dan menancapkan tag (tanda) satelit pada sirip punggungnya. Tag ini menempel pada sirip punggung, seperti klip pengikat.

Penandaan untuk penjejakan satelit ini sukses. Hiu paus betina dengan panjang 12 meter tersebut diberi nama “Kelly” oleh donor ekspedisi Seth Casden.

Hiu paus di Kepulauan Galapagos. FOTO: KIP EVANS/MISSION BLUE

Melalui tagging yang dipasang tersebut, akan diperoleh informasi lokasi hiu paus ini. Dr Hearn bukan baru kali ini mempelajari hiu di Galápagos. Selama hampir 14 tahun Dr Hearn mempelajari satwa laut yang dilindungi ini.

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 100 hiu paus yang sudah ditandai. Kegiatan ini dilakukan Dr Hearn bersama Universidad San Francisco de Quito, dan sejumlah ilmuwan dengan Mission Blue partner MigraMar dan Proyek Hiu Paus Galápagos (the Galápagos Whale Shark Project).

Menurut Mission Blue, hampir semua hiu paus yang melewati Kepulauan Galapagos, adalah betina dewasa.

Para ilmuwan telah mengumpulkan data tentang hiu paus yang bermigrasi melalui Pasifik Timur berharap ada jawaban atas beberapa pertanyaan.

Pertanyaan tersebut, antara lain, mengapa hiu paus ini semua betina dewasa? Apakah hiu paus ini sedang hamil?

Mengapa mereka hanya menghabiskan waktu selama 2-3 hari sebelum meninggalkan Galápagos? Dari mana mereka berasal sebelum tiba di Galapagos?

Masih banyak yang tidak diketahui tentang keberadaan kehidupan hiu paus. Hal ini membuat kesulitan untuk melindungi hewan-hewan ini yang melakukan perjalanan jarak jauh melintasi lautan.

Data yang dikumpulkan dari tag satelit, seperti yang dipasang pada hius paus “Kelly” selama Ekspedisi Mission Blue Hope Spot di Galápagos sangat penting untuk ilmu pengetahuan.

Karena melalui tanda tersebut dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Hal ini dapat digunakan untuk mendukung kawasan lindung yang baru yang diperluas, serta rencana pengelolaan untuk melindungi hiu paus tersebut saat bermigrasi.

Kendati menyandang fisik sebagai ikan terbesar di lautan, hiu paus masih menyimpan banyak misteri dalam kehidupannya. Salah satunya, kecenderungan jenis kelamin jantan yang masih remaja muncul di perairan Indonesia dan betina dewasa di Kepulauan Galapagos.*

Sumber: Mission-blue.org dan Abdul Hamid A. Toha dkk (Cetakan 2, September 2019) Hiu Paus Teluk Cenderawasih: Riset dan Monitoring, Cetakan 2, September 2019, diterbitkan oleh Penerbit Brainy Bee.

Exit mobile version