Perlindungan Hiu Paus

Ikan hiu paus. FOTO: DARILAUT.ID

PERAIRAN Indonesia termasuk salah satu jalur migrasi hiu paus. Hal ini terbukti dengan seringnya jenis ikan ini ditemui di beberapa wilayah perairan Indonesia seperti perairan Sabang, Situbondo, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, dan Papua.

Di perairan Botubarani, Gorontalo, kemunculan hiu paus di perairan Botubarani sudah lama diketahui nelayan setempat dan mulai aktif tercatat tahun 2016. Dalam tiga tahun, secara rutin hiu paus terlihat di perairan ini.

Selama 2019, hiu paus tercatat terlihat sejak bulan Januari hingga Agustus. Sementara di bulan September ini, hiu paus belum terlihat kemunculannya di perairan Bitubarani.

Ikan hiu paus (Rhincodon typus) dilindungi secara penuh oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/KEPMEN-KP/2013.
Perlindungan ini karena jumlahnya semakin berkurang akibat mudah tertangkap secara tidak sengaja oleh nelayan (by-catch).

Sepanjang tahun ikan ini dapat ditemukan di perairan Probolinggo – Situbondo, Jember – Tulungangung pada bulan September – Oktober setiap tahunnya.

Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar melakukan pengamatan kemunculan di perairan Bayeman Probolinggo. Kemunculan hiu paus ditemukan pada Kamis 5 September 2019 sebanyak 12 ekor dan Sabtu 7 September 2019 sebanyak 3 ekor.

Penelitian mengenai jenis ikan hiu paus masih sangat minim dikarenakan sulitnya mempelajari siklus hidupnya yang cenderung berpindah sangat jauh (migratory) dan hidup soliter.

Pelacakan hiu paus menggunakan satelit real-time yang dipasang di sirip punggung pada 27 hiu paus di Teluk Saleh – Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat dan Teluk Cendrawasih Papua Barat oleh Conservation International Indonesia menunjukkan bahwa hiu paus dapat berenang hingga lebih dari 2,000 kilometer dan pada penelitian lain jarak berenang hingga mencapai 20.000 kilometer .

Namun diperkirakan jumlahnya makin berkurang dikarenakan mudahnya ikan ini tertangkap secara tidak sengaja (bycatch) oleh nelayan karena ukurannya yang besar dan gerakannya yang lambat. Saat ini ikan hiu paus masuk ke dalam Appendiks II CITES dan juga termasuk kedalam daftar merah IUCN dengan kategori Rentan (Vulnerable), karena memiliki karakter yang spesifik seperti berumur panjang, fekunditas rendah, jumlah anakan sedikit, lambat dalam mencapai matang kelamin dan pertumbuhannya lambat, sehingga sekali terjadi over eksploitasi, sangat sulit bagi populasinya untuk kembali pulih.

Hiu paus memberikan banyak manfaat. Manfaat dari penetapan status perlindungan penuh ikan ini adalah untuk menjaga keseimbangan ekosistem (rantai makanan) perairan laut dan menjaga kelestarian biota laut langka (eksotik).

Selain itu, menjaga nilai dan keanekaragaman sumberdaya ikan dan lingkungan secara berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan pariwisata bahari berbasis ikan hiu paus seperti yang dilakukan di Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.*

Exit mobile version