Rabu, Januari 21, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Sampah & Polusi

Penanganan Sampah di Pantai Wisata Laut Sawu

NOIR PRIMADONA PURBA

redaksi
27 Juli 2018
Kategori : Sampah & Polusi
0
Penanganan Sampah di Pantai Wisata Laut Sawu

Noir Primadona Purba. FOTO: DOK. ISTIMEWA

SAMPAH laut menjadi isu sentral saat ini karena dampaknya ke ekosistem, ekonomi, dan kesehatan. Untuk wilayah perairan Laut Sawu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menjadi penting disebabkan adanya “transborder issue”, yakni sistem lautan yang terhubung.

Sampah ini dibawa via arus laut dan Indonesia merupakan alur arus dunia (Ocean Conveyor Belt) dan menjadi “trapping” terhadap sampah tersebut. Aliran air dari Pasifik menuju Hindia melalui Indonesia dan didalamnya mengalir di sekitar wilayah perairan timur Indonesia.

Kita tahu bahwa Ocean Garbage Patch telah diidentifikasi dan berpotensi memasuki wilayah Indonesia. Indeks Kesehatan Laut (IKL) Indonesia pada tahun 2017, berada pada peringkat 145 dari 221 negara. Kesehatan ini salah satunya adalah tingginya polutan di air, di mana termasuk sampah didalamnya.

Sampah laut sudah menjadi isu global. Hasil penelitian Jambeck pada tahun 2015 menempatkan Indonesia sebagai penghasil nomor dua di dunia, dengan volume 0.48-1.29 juta ton sampah.

Pada bulan Juni 2018, Tim yang berasal dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Padjadjaran, serta beberapa instansi melakukan kajian sampah laut di perairan laut Sawu. Instansi yang terlibat, seperti Diver Clean Action (DCA), Manta watch, KKP (Kementrian Kelautan dan Perikanan), Indonesia Waste Platform (IWP). Turut serta dalam kajian ini dari BKKPN Kupang sebagai pengelola Taman Nasional Perairan Laut Sawu.

Kegiatan ini didanai oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dalam project DDRG (Drive Demand Research Grant) untuk melakukan kajian sampah laut di sebagai perairan laut Sawu.

Pentingnya penelitian ini disebabkan tingginya keanekaragaman hayati dari sisi biota, ekosistem, dan kesuburan perairan.

Seperti diketahui, sampah laut mempengaruhi aspek ekologi dan ekonomi masyarakat. Selain itu, letak perairan Sawu sebagai lokasi migrasi ikan, sangat rentan terhadap sampah. Sebagian besar ikan, tidak dapat membedakan mana makanan dan juga sampah.

Hasil riset menunjukkan bahwa sampah makro yang dikaji di pantai sangat banyak dan mencapai 9.42 kg/100 meter. Rata-rata sampah yang dikumpulkan adalah sekitar 4 kg/100 meter. Lokasi pantai yang menjadi tempat kajian, antara lain Pantai Oisina dan Namosain di Kupang, Nembrala dan Oiseli, dan Pantai Tiang Bendera di Rote, dan pantai di Pulau Ndana.

Pulau Ndana merupakan pulau terluar di Indonesia. Pulau ini berbatasan dengan negara lain dan berperan untuk menjaga kawasan konservasi. Sampah yang ada di pulau ini merupakan sampah yang berasal dari pulau lainnya.

Senada dengan hal tersebut, hasil identifikasi menunjukkan bahwa sampah-sampah yang ada di pantai tersebut, kebanyakan bukan dari pulau tersebut. Untuk wilayah pantai yang lain, sampah yang ditemukan berupa kaca, plastik, plastik kemasan, botol kemasan.

Hal serupa ditemukan di 60 lokasi yang pernah dikaji di Pulau Jawa. Hal yang sama juga tampak di Rote dan Ndana. Di rote, pantai-pantai yang termasuk dalam kunjungan turis memang terlihat kotor. Dapat dikatakan bahwa 1/5 luasan pantai tertutup oleh sampah.

Jika melihat sampah yang ada di pantai, kebanyakan di pantai wisata. Sampah ini berasal dari turis atau masyarakat lokal. Di beberapa tempat, sampah juga terbawa oleh aliran air sungai atau pun arus laut dari tempat lain.

Belum adanya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah, membuat pantai menjadi kotor. Nilai estetika berkurang, menyebabkan turis yang datang semakin berkurang. Dalam hal ini, diperlukan aturan dan kebijakan yang ketat terhadap pengelolaan sampah di berbagai instansi hingga ke masyarakat.

Perlu adanya perbaikan sarana di berbagai pantai untuk menampung sampah yang berasal dari turis dan masyarakat. Tingkat kesadaran yang kurang ini didasarkan pengetahuan yang rendah, terkait dampak yang ditimbulkan oleh sampah. Selain itu, diperlukan sosialisasi kepada industri agar dapat menggunakan kemasan yang ramah lingkungan/recylce dalam produk yang dihasilkan.

Sampah sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dengan teknologi yang ada saat ini. Dengan melihat kondisi yang ada di Kupang dan sekitarnya, sampah dapat dijadikan sebagai bahan kerajinan tangan tradisional hingga dapat didaur ulang dalam skala industri.

Pemerintah memegang peranan penting dalam mengelola lingkungannya terutama untuk lautan. Masyarakat harus turut aktif dalam mengelola dan menjaga lingkungan karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Noir Primadona Purba adalah peneliti di Departemen Ilmu Kelautan, Universitas Padjajaran. Tahun 2011-2016 melakukan penelitian marine debris di Indonesia. Pada 2016, sebagai ahli rencana aksi marine debris di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Tags: Laut SawuSampah LautUnpad
Bagikan8Tweet5KirimKirim
Previous Post

Penyelundupan Sirip Hiu Digagalkan di Banjarmasin dan Sentani

Next Post

Bom Ikan di Kolaka

Postingan Terkait

12 Jenis Ikan Ekonomis yang Terkontaminasi Mikroplastik di Teluk Tomini Hidup di Dekat Pantai Hingga Terumbu Karang

Mikroplastik di Tubuh Ikan dan Sekitar Kita, Riset di Perairan Gorontalo dan Teluk Tomini

20 Januari 2026
12 Jenis Ikan Ekonomis yang Terkontaminasi Mikroplastik di Teluk Tomini Hidup di Dekat Pantai Hingga Terumbu Karang

12 Jenis Ikan Ekonomis yang Terkontaminasi Mikroplastik di Teluk Tomini Hidup di Dekat Pantai Hingga Terumbu Karang

20 Januari 2026

Peneliti UNG Temukan 12 Jenis Ikan Ekonomis di Teluk Tomini Terkontaminasi Mikroplastik

Kurangi Emisi Filipina Memulai Pelayaran Perdana Kapal Kargo Bertenaga Metanol

Peneliti BRIN Kembangkan Varietas Padi Tahan Kadar Garam Tinggi

Cegah Pencemaran di Laut KKP Keluarkan Cara Penanganan Limbah dan Sampah di Kapal Perikanan

Mahasiswa UNG Perkenalkan Cara Mengolah Limbah Tahu Ramah Lingkungan

Indonesia Pantau Mikroplastik Laut Berbasis Protokol Global

Next Post
Bom Ikan di Kolaka

Bom Ikan di Kolaka

Komentar tentang post

TERBARU

LBH Pers: Tahun 2025 Angka Kekerasan Terhadap Pers Capai Tit­ik Tertinggi

Waspada Peningkatan Curah Hujan di Sebagian Wilayah Indonesia dan Pergerakan Bibit Siklon Tropis 97S

Bibit Siklon Tropis 97S Akan Berkembang Kembali di Selatan NTT

Anugerah UNG Berdampak 2026, Darilaut.id Peroleh Gold Winner

Anugerah UNG Berdampak 2026, Rektor: Menumbuhkan Kinerja Terukur dan Transparan

Mikroplastik di Tubuh Ikan dan Sekitar Kita, Riset di Perairan Gorontalo dan Teluk Tomini

AmsiNews

REKOMENDASI

Angin Kencang Merusak 100-an Rumah

Lego Jangkar Tanpa Izin, TNI Angkatan Laut Kembali Amankan Kapal Panama

Apa itu Sistem Peringatan Dini?

Kongres Meteorologi Dunia Menetapkan Strategi Baru di Masa Perubahan Iklim

KAGAMA Gorontalo Siap Memfasilitasi Jika Ada Kendala KKN Kolaboratif UGM-UNG

Masuk Jaring, Nelayan Indonesia Lepas Lima Lumba-lumba Hidung Botol

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2023 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2023 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.