Penyu Raksasa Muncul di Pantai Paloh Kalimantan Barat

Penyu belimbing

Penyu belimbing. FOTO: OCEANA

Darilaut – Seekor penyu raksasa panjang 1,7 meter ditemukan di pantai Paloh Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.

Satwa laut ini dengan nama penyu belimbing (Dermochelys coriacea) memiliki lebar jejak 194 cm.

Pesisir pantai Paloh selama ini dikenal sebagai tempat peneluran penyu terpanjang di Indonesia. Biasanya yang selalu bertelur di pantai ini jenis penyu hijau.

Penyu belimbing yang datang bertelur di pantai Paloh dengan panjang lengkung karapas 174 cm dan lebar karapas 114 cm.

Ketika ditemukan penyu tersebut sedang menggali lubang untuk bertelur di pantai Sungai Belacan oleh petugas enumerator dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Selain itu, di lokasi tersebut terda[at sejumlah mahasiswa praktik kerja lapangan (PKL) Program Studi Ilmu Kelautan, Universitas Tanjungpura. Mahasiswa ini sedang melakukan monitoring dan pendataan penyu.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Pamuji Lestari mengatakan kemunculan penyu belimbing sebagai penyu terbesar di dunia ini sangat langka dan terjadi di pantai Paloh yang merupakan tempat peneluran penyu yang biasanya didominasi oleh penyu hijau.

Pantai Paloh yang memiliki panjang mencapai 63 km ini termasuk dalam kawasan konservasi daerah sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 93 Tahun 2020 tentang Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Paloh dan perairan sekitarnya di Kalimantan Barat.

Menurut Lestari penyu mempunyai peran yang sangat penting dalam ekosistem laut. Keberadaannya menjadi salah satu indikator kesehatan suatu perairan. Kemunculan jenis penyu belimbing dengan ciri khas karapas yang berbentuk juring-juring seperti buah belimbing ini sangat jarang terjadi, apalagi rute jelajahnya yang sangat tinggi antar negara bahkan benua.

Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Paloh dan perairan sekitarnya merupakan kawasan konservasi untuk meningkatkan kelestarian kehidupan biota laut di sekitarnya dan harus dikelola lebih baik. Sebagaimana berpedoman pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 31 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi dan Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Nomor 28 Tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi.

Semua jenis penyu telah dilindungi secara penuh oleh pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Status penyu masuk dalam daftar merah The International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan Appendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Karena itu, diperlukan upaya konservasi sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan dan Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 526 tahun 2015 tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh, dan/ atau Produk Turunannya.

Kepala BPSPL Pontianak, Andry Sukmoputro mengatakan sebagai bentuk perlindungan dan pelestarian penyu, BPSPL Pontianak telah melakukan kegiatan monitoring dan pendataan populasi penyu di Pantai Peneluran Penyu Paloh sejak tahun 2016 berkolaborasi dengan WWF Indonesia melalui melakukan pendataan populasi oleh enumerator dan melaporkan hasilnya setiap bulan.

Berdasarkan informasi tim di lapangan, kata Andry, penyu belimbing tersebut sayangnya tidak sampai pada fase bertelur, padahal sudah menggali lubang badan. Tim sudah berupaya meminimalisir gangguan sesuai SOP pemantauan, namun tampaknya faktor alam yang menyebabkan penyu tidak sampai pada fase bertelur.

Selain penyu hijau, yang datang mendarat untuk bertelur di pantai Paloh adalah penyu sisik (Eretmochelys imbricataI) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Exit mobile version