Penelitian di Laut Banda pada 2025 menghubungkan dinamika eddy dengan thermal front, yaitu batas pertemuan massa air dengan karakteristik suhu berbeda. Interaksi Eddy, upwelling, dan thermal front dapat memengaruhi suhu permukaan, konsentrasi klorofil-a, serta ketersediaan nutrien yang mendukung produktivitas perairan.
Sebelumnya, telah dilakukan kajian Laut Banda untuk melihat kaitan pusaran dengan keselamatan pelayaran. Pada data 2017, teridentifikasi 85 kejadian eddy, terdiri atas 34 siklonik dan 51 antisiklonik.
Hasil analisis tersebut turut menjadi dasar pengembangan purwarupa informasi untuk mendukung navigasi, kata Prof. Widodo.
Penelitian lainnya di perairan Natuna menunjukkan Eddy tidak selalu berdiri sendiri, akan tetapi dapat menjadi bagian dari sistem arus regional. Kajian Natuna Off-Shelf Current (NOC) memperlihatkan keterkaitan aliran arus ke selatan dengan Vietnam Coastal Jet, pengaruh angin, dan topografi Laut Natuna Utara.
Dinamika tersebut juga menunjukkan respons terhadap ENSO, dengan kecenderungan penguatan saat La Niña dan pelemahan saat El Niño.
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, memahami laut tidak cukup hanya dengan mengetahui arah arus utama. Informasi mengenai kapan pusaran terbentuk, seberapa kuat energinya, ke mana pergerakannya, dan bagaimana pengaruhnya terhadap lingkungan laut menjadi bagian penting dalam membangun pemantauan laut yang semakin cerdas dan mendukung pengelolaan sumber daya kelautan secara berkelanjutan.




