Penelitian ini dijalankan Prof. Widodo bersama mahasiswa bimbingan dan sejumlah kolaborator perguruan tinggi. Kajian Eddy selama satu dekade, mulai dari Samudra Hindia selatan Jawa hingga perairan Natuna dan Laut Banda.
Di wilayah Indonesia, dinamika eddy berinteraksi dengan sistem monsun, Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), serta karakteristik geografis berupa pulau, selat, paparan dangkal, dan cekungan laut dalam.
Secara umum, eddy dibedakan menjadi siklonik dan antisiklonik. Di belahan bumi selatan, eddy siklonik berputar searah jarum jam, sedangkan antisiklonik berputar berlawanan arah jarum jam. Perbedaan karakteristik ini berkaitan dengan perubahan tinggi muka laut dan posisi lapisan termoklin.
Kajian awal 2016 berfokus pada karakteristik dan variabilitas Eddy di Samudra Hindia selatan Jawa menggunakan keluaran model NEMO dan metode Automated Eddy Detection. Dari data 2014, penelitian tersebut mengidentifikasi 373 kejadian eddy, terdiri atas 192 eddy siklonik dan 181 eddy antisiklonik.
Penelitian selanjutnya berkembang dengan mengkaji hubungan eddy terhadap fenomena ENSO, distribusi tuna dan cakalang, serta energi kinetik Eddy atau Eddy Kinetic Energy (EKE).
Pemantauan Satelit
Prof. Widodo menjelaskan bahwa perkembangan terbaru penelitian ini diarahkan pada estimasi energi kinetik eddy berbasis satelit. Kajian tersebut dipublikasikan dalam IEEE ISITIA 2026 melalui artikel berjudul “Satellite Altimetry Signal Processing for Eddy Kinetic Energy Estimation in the Indonesian Seas: Toward Intelligent Ocean Monitoring”.




