250 juta Hektare Daratan dan Perairan Dalam Proses Pemulihan

Pemulihan ekosistem laut dan pesisir masih jauh lebih terbatas. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Lebih dari 250 juta hektare luas daratan dan perairan di 149 negara saat ini sedang dalam proses pemulihan.

Pemulihan ekosistem daratan telah mencapai hampir setengah dari target 30 persen, sementara pemulihan ekosistem laut dan pesisir masih jauh lebih terbatas.

Melansir UN News, mulai dari tempat pemijahan ikan salmon di Kanada hingga terumbu karang di Indonesia, ekosistem di seluruh dunia sedang dipulihkan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Program Lingkungan PBB (UNEP) melaporkan sekitar 252 juta hektare lahan di 149 negara—luas daratan dan perairan yang kira-kira setara dengan luas negara Kazakhstan—saat ini sedang dalam proses pemulihan.

Ini merupakan upaya restorasi terdokumentasi terbesar yang pernah ada hingga saat ini. Lebih dari satu juta lapangan kerja ramah lingkungan (green jobs) juga telah tercipta melalui proses tersebut.

“Hari ini, kita menyaksikan lahirnya salah satu gerakan terbesar bagi alam dalam sejarah yang pernah tercatat,” ujar Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.

UNEP dan lembaga-lembaga mitra menyampaikan dalam sebuah laporan yang diluncurkan pada hari Kamis di konferensi keanekaragaman hayati COP17 di Yerevan, Armenia, tindakan lebih lanjut diperlukan untuk mencapai target pemulihan global.

Laporan berjudul Nature’s comeback – Scaling ecosystem restoration for people and planet (Kebangkitan Alam – Meningkatkan Skala Pemulihan Ekosistem demi Manusia dan Planet) ini dirilis tepat di pertengahan Dekade PBB untuk Pemulihan Ekosistem (UN Decade on Ecosystem Restoration) yang berlangsung hingga tahun 2030.

Laporan tersebut mengevaluasi kemajuan komitmen global untuk memulihkan sekitar satu miliar hektare lahan—kira-kira seluas negara Tiongkok—pada akhir periode tersebut, serta memastikan 30 persen ekosistem dunia berada dalam kawasan konservasi.

Hal ini sejalan dengan kesepakatan tahun 2022 yang dikenal sebagai Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework).

Agar target ini tercapai, diperlukan percepatan yang pesat, khususnya pada ekosistem air tawar, laut, dan pesisir. Pendanaan tahunan untuk pemulihan juga harus ditingkatkan lebih dari empat kali lipat, dari 64 miliar dolar AS menjadi 296 miliar dolar AS—sebuah investasi yang berpotensi menciptakan hingga 32 juta lapangan kerja di seluruh dunia pada tahun 2030.

Pemulihan itu Efektif

“Setelah lima tahun berjalan dalam Dekade PBB ini, pesannya jelas: pemulihan itu efektif,” kata Dongyu Qu, Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), yang menerbitkan laporan ini bersama dengan UNEP dan sekretariat keanekaragaman hayati PBB.

“Tantangannya adalah menjadikan upaya pemulihan sebagai bagian tak terpisahkan dari pengelolaan lahan, air, dan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta mewujudkan transformasi sistem pangan dan pertanian yang koheren.”

Pemulihan Alami

Membantu alam untuk pulih kembali sangatlah penting bagi ketahanan pangan dan air, ketahanan iklim, penyediaan lapangan kerja, serta kesejahteraan.

Penelitian menunjukkan bahwa memulihkan hanya 15 persen dari area prioritas global dapat mencegah 60 persen kepunahan spesies yang diprediksi terjadi, sekaligus menyerap emisi yang setara dengan 30 persen emisi karbon dioksida.

Namun, kemajuan yang dicapai sangat bervariasi di berbagai ekosistem dan negara. Sebagai contoh, pemulihan ekosistem daratan telah mencapai hampir setengah dari target 30 persen, sementara pemulihan ekosistem laut dan pesisir masih jauh lebih terbatas.

Laporan tersebut menyatakan bahwa upaya pemulihan harus dilakukan dalam jangka waktu yang cukup panjang, agar ekosistem dan keanekaragaman hayati dapat pulih, sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

“Kita tidak bisa berharap untuk memperbaiki alam dengan satu tangan, sementara di saat yang sama kita justru merusaknya dengan tangan yang lain,” ujar Astrid Schomaker, Sekretaris Eksekutif Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD).

“Pemerintah harus mengatasi faktor-faktor penyebab degradasi ekosistem dan berinvestasi dalam mekanisme pemantauan untuk menjamin keberlanjutan gerakan pemulihan yang telah dilakukan sejauh ini.”

Exit mobile version