Darilaut – Satelit altimetri presisi tinggi Copernicus yang baru melacak kenaikan permukaan laut, badai, dan fenomena El Niño. Hal ini dapat membantu melindungi masyarakat pesisir, meningkatkan keselamatan di laut, serta memajukan pemantauan iklim.
Copernicus Sentinel-6B mulai beroperasi pada 30 Oktober 2026, memastikan bahwa catatan satelit mengenai permukaan laut global—yang telah dimulai lebih dari 30 tahun lalu—akan terus berlanjut hingga tahun 2030-an.
Dioperasikan oleh EUMETSAT —badan satelit meteorologi Eropa— atas nama Komisi Eropa, satelit ini akan segera menjadi acuan global untuk altimetri laut presisi tinggi, sekaligus tolok ukur bagi kalibrasi misi pemantauan permukaan laut lainnya.
Para prakirawan cuaca memanfaatkan data dari Copernicus Sentinel-6B untuk rentang waktu mulai dari hitungan hari hingga bulan. Dalam beberapa jam setelah dikumpulkan, data tersebut dimasukkan ke dalam model layanan cuaca, yang membantu memprediksi kondisi laut yang ganas selama badai musim dingin di Atlantik dan siklon di Mediterania, serta memperkirakan kekuatan badai tropis (hurikan).
Catatan permukaan laut ini juga menjadi dasar bagi prakiraan musiman, termasuk prediksi fenomena El Niño dan La Niña. Selain itu, instrumen radio occultation yang terpasang di satelit ini juga menyediakan data mengenai suhu atmosfer dan uap air.




