362 Orang Tewas dan 1.400 hilang di Nepal dan Tibet Akibat Banjir Dahsyat Himalaya

Banjir bandang dahsyat di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet-Cina akibat runtuhnya gletser Himalaya, pada hari Rabu (26/8). GAMBAR: POTONGAN VIDEO AP

Darilaut – Sedikitnya 362 orang tewas dan 1.400 hilang di Nepal serta Tibet akibat banjir bandang dahsyat dan tanah longsor di wilayah Himalaya, pada Rabu (66/8).

Tim penyelamat menerjang lumpur pada hari Kamis (27/8) untuk mencari korban hilang, sementara pihak berwenang di Nepal melaporkan setidaknya 359 orang tewas di negara tersebut. Sementara di Tibet, Cina, dilaporkan tiga orang tewas.

Ratusan jenazah telah ditemukan, setelah runtuhan besar lumpur dan batu yang jatuh ke sungai Himalaya memicu banjir dahsyat yang melanda kota-kota dan lembah setempat.

Melansir Al Jazeera, Kepolisian dan pejabat pariwisata Nepal menyatakan bahwa lebih dari 500 warga asing termasuk di antara 910 orang yang hilang di Nepal.

Di antara mereka yang hilang terdapat wisatawan dari lebih dari dua lusin negara: 177 orang dari India, 63 dari Amerika Serikat, 34 dari Australia, 33 dari Inggris, dan 25 dari Kanada.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok juga menyatakan bahwa hampir 100 warga negara Tiongkok termasuk di antara mereka yang hilang di Nepal.

Di seberang perbatasan, tepatnya di wilayah Gyirong, Tibet, sebanyak 558 orang dilaporkan hilang—termasuk 260 warga negara asing—menurut penyiar negara Tiongkok, CCTV.

Operasi pencarian dan penyelamatan menghadapi “tantangan besar” karena sekadar “menjangkau daerah terdampak… untuk mencoba mengevakuasi korban selamat” terbukti sangat sulit akibat kerusakan parah pada jalan dan jembatan di wilayah tersebut, ujar Minelle Fernandez dari Al Jazeera yang melaporkan dari ibu kota Nepal, Kathmandu.

Helikopter gabungan milik pemerintah dan swasta telah “dikerahkan untuk terbang ke wilayah tersebut guna mengevakuasi sebanyak mungkin korban selamat” ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan atas berbagai cedera—yang menurut dokter meliputi patah tulang rusuk dan luka bakar—kata Fernandez.

Tim penyelamat di Nepal telah mengerahkan helikopter untuk mencari korban selamat dan menjatuhkan bantuan darurat bagi ribuan orang yang terisolasi di kawasan pegunungan terjal yang populer di kalangan pendaki serta peziarah yang melakukan perjalanan antara Lhasa di Tibet dan Kathmandu.

Juru bicara militer Raja Ram Basnet mengatakan bahwa helikopter dikerahkan untuk menjatuhkan bantuan berupa tenda, makanan, dan obat-obatan dari negara tetangga, India, ke wilayah-wilayah yang paling parah terdampak. Lebih dari 5.000 personel penyelamat dari militer dan kepolisian turut serta dalam operasi penyelamatan yang berhasil mengevakuasi 125 orang pada hari Kamis, termasuk 20 warga negara asing, ujarnya.

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, bertolak melalui jalur darat menuju Bidur di distrik Nuwakot—salah satu wilayah yang paling parah terdampak—untuk meninjau situasi banjir, demikian disampaikan kantornya melalui media sosial.

Solidaritas PBB

Tim bantuan, termasuk badan-badan PBB, terus berupaya menjangkau masyarakat yang terisolasi akibat bencana banjir bandang dahsyat di Himalaya yang menerjang Nepal dan Tibet-Cina.

Ratusan orang masih hilang setelah banjir dahsyat di Nepal dan Tiongkok tersebut. Badan bantuan darurat PBB telah mengucurkan dana sebesar $2 juta, serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengirimkan obat-obatan, perlengkapan, dan tenda.

Saat kabar mengenai bencana tersebut mencuat pada Rabu pagi, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan solidaritasnya terhadap para korban dan keluarga yang terdampak banjir.

Runtuhnya gletser di ketinggian lembah curam Himalaya disebut-sebut sebagai kemungkinan penyebab banjir bandang dan tanah longsor mendadak yang telah menghancurkan permukiman serta menghanyutkan jembatan dan jalan raya.

Melansir UN News, Distrik Rasuwa, yang terletak sekitar 80 kilometer di utara Kathmandu di wilayah Nepal utara, terdampak sangat parah.

Wilayah ini mencakup kota Timure, Rasuwagadhi, dan Syabrubesi—destinasi pendakian populer bagi wisatawan, pendaki gunung, dan peziarah yang hendak menuju Lembah Langtang.

Wilayah tersebut juga pernah dilanda gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 pada April 2015 yang menewaskan lebih dari 8.800 orang.

Oktober lalu, hujan deras memicu banjir bandang dan tanah longsor di wilayah timur dan tengah Nepal, yang berdampak pada lebih dari 30.000 orang.

Exit mobile version