Terdapat perbedaan data mengenai tren emisi India pada tahun 2025. EDGAR melaporkan sedikit penurunan, sementara Energy Institute (2026) melaporkan sedikit peningkatan.
Namun, berbagai analisis sepakat bahwa tren emisi India pada tahun 2025 menunjukkan perubahan arah dari periode pertumbuhan pesat yang terjadi sebelumnya. Hal ini sebagian disebabkan oleh faktor cuaca, serta pergeseran struktural menuju energi terbarukan.

Dari segi besaran, peningkatan emisi di Amerika Serikat (133 megaton setara CO2 atau MtCO2e) jauh melampaui negara-negara lain, yang dipicu oleh meningkatnya permintaan listrik dan kembali naiknya penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara.
Peningkatan terbesar berikutnya terjadi di Turki (24,4 MtCO2e), Republik Islam Iran (18,9 MtCO2e), dan Indonesia (17,4 MtCO2e).
Meskipun tren emisi global masih didominasi oleh negara-negara anggota G20, kontribusi dari negara-negara di luar G20 meningkat pada tahun lalu, mencakup 47 persen dari total perubahan emisi.
Kontribusi berdasarkan emisi saat ini, emisi per kapita, dan emisi historis bervariasi di antara negara-negara penghasil emisi terbesar dan berbagai kawasan di dunia
Emisi gas rumah kaca (GRK) per kapita di Amerika Serikat, Federasi Rusia, Tiongkok, dan Uni Eropa berada di atas rata-rata dunia sebesar 6,4 ton setara CO2 (tCO2e), sementara di Indonesia dan India, angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata dunia.



