Darilaut – Masa depan terumbu karang dunia dalam situsasi yang mengkhawatirkan. Terumbu karang dunia terus dihantam oleh perubahan iklim, dan serangan bertubi-tubi ini bisa segera berakibat fatal.
Laporan terbaru baru-baru ini dirilis oleh Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN), yang bermitra dengan Program Lingkungan PBB (UNEP), dengan judul Status of Coral Reefs of the World 2025.
Laporan tersebut menemukan bahwa serangkaian gelombang panas laut selama tiga dekade terakhir telah menyebabkan hilangnya setidaknya 9,5 persen terumbu karang dunia.
Karang yang tersisa menghadapi masa depan suram akibat suhu panas bawah laut yang berpotensi mematikan.
“Laporan ini menjadi pengingat bahwa kita sedang berpacu dengan waktu untuk melindungi ‘kota bawah laut’ yang menakjubkan ini dari perubahan iklim, polusi, dan penangkapan ikan berlebihan,” ujar Direktur Divisi Ekosistem UNEP Susan Gardner, seperti dikutip dari Unep.org.
Terumbu karang adalah hewan kecil berbentuk tabung yang menambatkan diri pada dasar laut atau objek diam, seperti bangkai kapal. Sebagai kerabat ubur-ubur, mereka menggunakan tentakel penyengat untuk menangkap mangsa yang terbawa arus.
Banyak polip karang—sebutan resmi bagi hewan-hewan ini—membentuk kerangka kalsium yang keras di sekeliling tubuh mereka. Ketika ribuan karang berkumpul, mereka membentuk terumbu karang. Kota-kota bawah laut ini dipenuhi oleh kehidupan.
Meski hanya menutupi kurang dari 1 persen dasar laut, ekosistem ini menjadi rumah bagi 25 persen spesies laut.
Gelombang Panas Laut
Di dalam setiap karang terdapat ribuan organisme mirip tumbuhan yang disebut zooxanthellae. Dalam salah satu hubungan simbiosis terpenting di bumi, karang menyediakan karbon dioksida yang dibutuhkan zooxanthellae untuk fotosintesis, dan sebagai imbalannya, karang menerima nutrisi penting.
Mikroorganisme ini juga memberikan warna yang sering kali memukau pada terumbu karang.
Namun, saat suhu laut meningkat, karang mengalami stres dan melepaskan zooxanthellae mereka, sehingga warnanya berubah menjadi putih pucat atau abu-abu.
Proses ini dikenal sebagai pemutihan karang (bleaching). Proses ini tidak serta-merta mematikan karang.
Namun, hal ini membuat mereka rentan terhadap penyakit dan kematian akibat kekurangan nutrisi, ujar Kepala unit Ekosistem Laut dan Pesisir UNEP, Sinikinesh Beyene Jimma.
Temuan
Studi dalam Status of Coral Reefs of the World 2025 mensurvei hampir 37.000 lokasi terumbu karang di lebih dari 120 negara. Studi tersebut membandingkan cakupan terumbu karang dari tahun 2020 hingga 2024 dengan rata-rata historis periode 1980 hingga 2009.
Kesimpulannya? Setidaknya 9,5 persen terumbu karang keras telah hilang. Para penulis studi menyatakan bahwa angka tersebut merupakan estimasi konservatif, dan tingkat penyusutan terumbu karang kemungkinan lebih tinggi.
Namun, yang penting, laporan tersebut menemukan bahwa hilangnya terumbu karang tidak terjadi secara seragam di seluruh dunia, dan di beberapa tempat, terumbu karang justru sedang pulih kembali.
Penurunan Kondisi Terumbu Karang
Perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah memicu empat gelombang panas laut besar sejak tahun 1998, yang masing-masing menyebabkan pemutihan terumbu karang dalam skala global.
Terumbu karang dapat pulih dari pemutihan jika diberi waktu yang cukup. Namun, terjadinya gelombang panas yang bertubi-tubi belakangan ini telah menghambat proses tersebut.
“Ini ibarat seorang petinju yang menerima serangkaian pukulan cepat,” kata Gabriel Grimsditch, Pejabat Manajemen Program di UNEP.
“Terumbu karang dunia semakin melemah akibat setiap gelombang panas, dan mereka tidak mendapatkan waktu yang dibutuhkan untuk kembali bangkit.”
Akan tetapi, perubahan iklim bukan satu-satunya masalah. Polusi, penangkapan ikan berlebihan, dan pembangunan wilayah pesisir membuat terumbu karang semakin sulit bertahan menghadapi gelombang panas laut.
GCRMN
Laporan terbaru tersebut setebal 298 halaman menyebutkan terumbu karang dunia semakin kehabisan waktu untuk pulih di tengah gelombang panas laut yang kian sering terjadi dan peristiwa pemutihan karang global yang dipicu oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
GCRMN didirikan oleh International Coral Reef Initiative (ICRI) pada tahun 1995 untuk memantau kondisi terumbu karang dunia.
GCRMN adalah jaringan ilmuwan, pengelola, dan organisasi yang memantau kondisi terumbu karang di seluruh dunia, dengan tujuan menyediakan informasi ilmiah terbaik yang tersedia mengenai status dan tren ekosistem terumbu karang demi upaya konservasi dan pengelolaannya.
