Melawan Misinformasi dan Disinformasi Melalui Ruang Spiritual di Kampus Universitas Negeri Gorontalo

“UNG Bersholawat” bersama Ustaz Abdul Somad, di halaman rektorat Kampus Universitas Negeri Gorontalo, pada Kamis 23 Oktober 2025. FOTO: NOVITA J. KIRAMAN

Darilaut – Lantunan zikir dan selawat menggema syahdu di langit malam di halaman kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pada Kamis 23 Oktober 2025.

Ribuan civitas academica dan masyarakat Gorontalo memenuhi lapangan rektorat UNG, larut dalam irama doa dan pujian kepada Rasulullah SAW. Di tengah suasana religius yang menenteramkan, kegiatan “UNG Bersholawat” bukan sekadar momentum spiritual, melainkan juga ruang pembelajaran di era digital.

Momen spiritual ini tentang bagaimana memahami pesan dengan benar di tengah arus informasi yang salah atau menyesatkan, misinformasi dan disinformasi

Kehadiran ulama kondang, Ustaz Abdul Somad (UAS), menjadi magnet tersendiri. Nama UAS kerap muncul dalam percakapan media sosial, baik dalam konteks dakwah maupun kontroversi yang dipelintir dari potongan video.

Namun malam itu, ribuan mata menyaksikan langsung, tanpa filter, tanpa editan. Seorang pendakwah yang menekankan pentingnya menjaga hati, menjauhkan iri dengki, dan menyebarkan kebaikan.

“Hasad (dengki) itu membuat hati tidak tenang, menjauhkan kita dari keberkahan, dan menutup pintu rezeki,” ujar UAS lantang dari atas panggung. Suaranya menggema di antara ribuan jemaah yang khusyuk menyimak, bersihkan hati, kuatkan iman, dan perbanyak rasa syukur atas karunia Allah.”

Bagi sebagian orang, momen seperti ini lebih dari sekadar tausiah. Suasana ini menjadi kesempatan untuk melihat realitas yang sering kabur karena informasi yang salah dan tidak utuh.

Rektor UNG, Prof. Dr. Eduart Wolok, menjelaskan bahwa kegiatan ”UNG Bersholawat” bukan hanya bagian dari syiar keagamaan, tetapi juga bentuk literasi nilai bagi generasi muda.

“Kampus bukan sekadar ruang akademik, tetapi juga tempat membangun karakter yang beriman, berakhlak, dan mencintai Rasulullah SAW,” ujar Rektor UNG.

”Melalui kegiatan ini, kami ingin melahirkan generasi cendekia yang tidak hanya cerdas intelektual, tapi juga cerdas digital.”

Menurut Rektor, di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat, mahasiswa perlu memiliki kemampuan menyaring mana yang fakta dan mana yang manipulasi.

“Nilai tabayun atau verifikasi yang diajarkan dalam Islam sangat relevan untuk era digital sekarang. Jangan sampai kita ikut menyebar hoaks yang justru menimbulkan perpecahan,” kata Prof. Eduart yang juga Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).

Makna Spiritual dan Sosial

Di antara ribuan jamaah yang hadir, terdapat wajah-wajah muda yang menjadi representasi generasi digital. Salah satunya Iska, mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial UNG.

Dengan mata berbinar, Iska menceritakan pengalamannya mengikuti tausiah UAS secara langsung.

“Selama ini saya hanya tahu Ustaz Abdul Somad dari media sosial. Kadang yang muncul di beranda itu video singkat, bahkan kadang isinya menimbulkan salah paham. Tapi setelah dengar langsung, ternyata beliau sangat santun dan pesannya menyejukkan,” kata Iska.

Iska mengatakan kegiatan seperti ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana kebenaran seharusnya dicari dengan mendengar langsung, bukan dari potongan narasi yang disebar tanpa konteks.

“Ini jadi pelajaran berharga bahwa tidak semua yang viral itu benar. Kita harus periksa dulu sumbernya sebelum percaya atau membagikan ke orang lain,” ujarnya.

Suasana religius malam itu tak hanya menghadirkan kedamaian, tetapi juga refleksi mendalam bagi generasi muda tentang peran mereka di dunia digital. Rendy, mahasiswa Fakultas Teknik UNG, mengakui bahwa kehadiran UAS di kampus menjadi momen yang mengubah pandangannya.

“Saya jadi sadar, banyak orang menilai sesuatu dari potongan video tanpa tahu konteks. Setelah mendengar tausiah, saya melihat sisi yang berbeda. Beliau menekankan pentingnya adab, rasa syukur, dan tidak iri pada keberhasilan orang lain. Ini sangat menyejukkan,” kata Rendy.

Rendy menilai mahasiswa memiliki peran penting sebagai penyeimbang di tengah banjir informasi.

“Kita harus jadi filter, bukan penyebar kabar bohong. Sebagai generasi muda, tanggung jawab kita bukan cuma belajar teori di kampus, tapi juga menjaga kebenaran di ruang digital,” ujar Rendy.

Literasi Digital dan Dakwah

Kegiatan berselawat yang dilaksanakan UNG tahun ini bertepatan dengan peringatan Hari Santri, menegaskan bahwa spiritualitas dan pengetahuan adalah dua sisi yang saling melengkapi.

UAS mengaku kagum karena baru pertama kali melihat kampus negeri memperingati Hari Santri dengan nuansa berselawat.

“Universitas memperingati hari santri, saya baru kali ini menyaksikan langsung kegiatan seperti ini. Semua jamaahnya menggunakan sarung seperti santri, ini luar biasa,” ujar UAS sambil tersenyum.

Di tengah suasana keagamaan itu, makna literasi informasi justru muncul lebih jelas. Melalui lantunan selawat, peserta diajak memahami nilai kebenaran dan kebersihan hati.

Di sisi lain, kampus sebagai lembaga pendidikan tinggi memberi ruang bagi mahasiswanya untuk mempraktikkan nilai tabayun, mencari penjelasan sebelum menyimpulkan sesuatu.

Kegiatan seperti ini memperlihatkan bahwa melawan disinformasi tidak selalu harus dilakukan melalui diskusi formal atau seminar literasi digital. Kadang, nilai-nilai itu justru tumbuh di ruang spiritual yang hangat dan inklusif.

Bagi Prof. Eduart, “UNG Bersholawat” adalah refleksi dari spiritual communication yang menjadi jembatan antara nilai akademik dan nilai kemanusiaan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa literasi bukan hanya soal membaca teks, tapi juga membaca makna. Melalui kegiatan keagamaan seperti ini, mahasiswa belajar tentang klarifikasi, empati, dan tanggung jawab sosial,” kata Prof. Eduart.

Kedamaian

Di dunia digital, pesan yang salah sering menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Namun malam itu di UNG, kedamaian menjadi pesan utama yang menembus batas algoritma.

Zikir dan selawat menggema bukan hanya di ruang kampus, tapi juga di hati para peserta yang menyadari pentingnya menahan jari sebelum menyebar berita.

Salah satu jamaah dari masyarakat umum, Nurhayati, mengaku terharu melihat ribuan mahasiswa larut dalam selawat bersama.

“Anak-anak muda sekarang lebih sering sibuk dengan ponsel. Tapi malam ini, mereka larut dalam doa, bukan dalam notifikasi. Itu sangat menyejukkan,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung hingga larut malam itu berakhir dengan doa bersama untuk negeri.

Pesan UNG Berselawat

UNG berselawat bukan hanya bentuk melawan misinformasi dan disinformasi melalui ruang spiritual di kampus. UNG berselawat memberi pesan bahwa literasi, informasi dan ketenangan spiritual tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling melengkapi sebagai bekal menghadapi dunia yang penuh distraksi.

Bagi UAS, menjaga hati dari hasad adalah kunci untuk hidup damai. Bagi mahasiswa, menjaga pikiran dari disinformasi adalah kunci untuk hidup cerdas. Dan di tengah dua pesan itu, kampus hadir sebagai ruang pertemuan antara pengetahuan dan keimanan.

“Kalau kita melihat saudara kita sukses, doakan agar keberkahan juga sampai kepada kita. Karena rezeki tidak akan tertukar,” kata UAS di penghujung tausiah.

Kalimat itu menutup malam dengan keheningan yang hangat, seolah menyadarkan bahwa kebaikan tidak perlu viral, cukup nyata dan tulus.

Dari ”UNG Bersholawat” masyarakat dan mahasiswa belajar satu hal penting, bahwa klarifikasi dan verifikasi bukan hanya tugas wartawan atau pemeriksa fakta, tapi juga kewajiban moral setiap individu beriman.

Di dunia yang penuh kabar simpang siur, tabayun adalah ibadah, dan mencari kebenaran adalah bagian dari zikir itu sendiri. (Novita J. Kiraman)

Exit mobile version