Darilaut – Erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik berdampak pada sejumlah wilayah. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) wilayah terdampak abu vulkanik mencakup sekitar 23,36 juta jiwa tersebar di wilayah Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Kemenkes terus memantau kondisi kesehatan masyarakat, kualitas udara, serta kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak.
Abu vulkanik mengandung partikulat dengan berbagai ukuran. Partikel halus seperti PM2,5 dapat terhirup hingga ke dalam paru-paru dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya pada kelompok rentan.
Kemenkes mencatat hingga 6 September 2026 terdapat 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif pada wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang tersebar di 4 provinsi dan 23 kabupaten/kota.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.771 kasus terjadi pada kelompok usia 0–5 tahun dan 12.988 kasus pada usia di atas 5 tahun.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono, mengatakan, pemantauan Kemenkes menunjukkan kejadian ISPA pada 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap gejala gangguan pernapasan.
Prof. Dante menjelaskan bahwa yang paling penting masyarakat tetap harus waspada. Walaupun bandara sekarang sudah dibuka, ternyata masalah kesehatan dari pengukuran particulate counter ini masih terus berdampak untuk Kesehatan.
Prof. Dante mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan abu vulkanik dan partikulat, antara lain dengan membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara belum baik.
“Misalnya stay at home, kemudian menggunakan masker, kalau ada gejala datang ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Khusus kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, serta masyarakat dengan penyakit tertentu, meminimalkan aktivitas di luar ruangan.
Abu Vulkanik di Sekitar Pemukiman dan Jalan
Meskipun aktivitas sehari-hari masyarakat mulai berjalan, debu vulkanik masih ditemukan di sekitar permukiman dan jalanan. Debu yang telah mengendap juga dapat kembali beterbangan ketika tertiup angin atau terangkat oleh kendaraan yang melintas.
Merespons kondisi tersebut, Yayasan Bumi Tangguh (YBT) menyalurkan sebanyak 5.000 masker kepada masyarakat terdampak di Desa Way Muli Timur dan Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.
Ketua Yayasan Bumi Tangguh, Dennie Mamonto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen YBT untuk melindungi masyarakat dan memperkuat ketangguhan mereka dalam menghadapi bencana.
“Kegiatan ini merupakan pelaksanaan salah satu misi Yayasan Bumi Tangguh, yaitu berperan aktif dalam pengurangan risiko, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan bencana untuk memperkuat ketangguhan masyarakat. Kami berharap bantuan masker ini dapat membantu mengurangi risiko kesehatan masyarakat yang masih harus menjalankan aktivitas sehari-hari di tengah paparan debu vulkanik,” ujar Dennie.
Masyarakat masih membutuhkan masker, terutama ketika beraktivitas di luar rumah. Partikel abu vulkanik yang berukuran halus dapat terhirup dan menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan.
Paparan abu juga dapat menimbulkan batuk, rasa tidak nyaman di dada, sesak napas, serta iritasi pada mata dan kulit.
Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan asma atau penyakit pernapasan dan jantung merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
