Darilaut – Kondisi cuaca di Indonesia masih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal sepekan ke depan.
Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang teramati sebesar +14.2, yang menunjukkan La Nina lemah.
Hal ini, menurut Direktorat Meteorologi Publik BMKG, berpengaruh dalam peningkatan pola konvektif di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Selain itu, kata BMKG, analisis regional berdasarkan anomali OLR (Outgoing Longwave Radiation), MJO (Madden-Julian Oscillation), dan aktivitas gelombang ekuator mengindikasikan kecenderungan peningkatan aktivitas konvektif.
Terutama di wilayah Sumatra bagian utara, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Pesisir Timur Sulawesi, Laut Banda, Laut Arafuru, Samudra Hindia Selatan Jawa hingga NTT, Laut Timor, Laut Maluku, Laut Seram, Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.
BMKG mengatakan peningkatan aktivitas konvektif tersebut diprakirakan diperkuat oleh aktifnya MJO secara spasial pada 27-28 Maret 2026, gangguan fenomena MJO secara spasial diprakirakan aktif di wilayah Samudera Hindia barat Aceh hingga Kepulauan Nias, Laut Arafuru, sebagian besar Pulau Papua dan Perairan utara utara Papua.
Kombinasi fenomena tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan curah hujan, terutama di beberapa wilayah perairan dan daratan Indonesia.
Di sisi lain, Siklon Tropis Narelle yang terpantau aktif kembali di Samudra Hindia barat laut Australia masih memberikan pengaruh tidak langsung terhadap dinamika atmosfer di Indonesia, terutama meningkatkan potensi curah hujan sedang – lebat di wilayah Banten, Daerah Khusus Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Sirkulasi siklonik diprakirakan muncul di Samudra Hindia Barat Aceh, Samudra Hindia Barat Daya Banten, Papua bagian Selatan.
Sistem-sistem ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang memanjang dari Samudra Hindia Barat Aceh hingga Sumatra Utara, Samudra Hindia Barat Daya Banten hingga Jawa Barat, dari Laut Arafuru hingga Papua Tengah.
Labilitas atmosfer lokal yang kuat juga masih terpantau di beberapa wilayah, termasuk Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, Papua Selatan sehingga berpotensi mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan dan cuaca signifikan di sejumlah wilayah.
Kondisi ini tentu saja memberikan pengaruh terhadap aktivitas masyarakat, khususnya selama periode arus balik lebaran.
Sebelumnya, pada 23–25 Maret 2026, BMKG mencatat hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Curah hujan tertinggi terpantau di Papua Tengah sebesar 119.2 mm/hari, Papua 64,6 mm/hari, Jawa Tengah 63,0 mm/hari, Jawa Barat 53,8 mm/hari, NTT 44,9 mm/hari, Jawa Timur 42,0 mm/hari, dan Lampung 36,0 mm/hari.
Kondisi ini dipengaruhi oleh masih aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial dan MJO spasial yang aktif timur Indonesia, adanya pola pertemuan serta perlambatan angin di beberapa wilayah, serta pemanasan yang cukup kuat pada siang hari yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.
Khusus di wilayah Jabodetabek, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga terpantau dalam beberapa hari terakhir, dengan curah hujan tertinggi antara lain di wilayah Jakarta Utara sebesar 60,0 mm/hari, Jakarta Barat 54,0 mm/hari, Bogor 53,8 mm/hari, Jakarta Selatan 40,0 mm/hari, Jakarta Timur 40,0 mm/hari, dan Jakarta Pusat 39,0 mm/hari.
