Amartha dan Kemenparekraf Kembangkan Industri Wisata dengan Prinsip Berkelanjutan di Desa Botubarani

Amartha sedang mengembangkan industri wisata dengan prinsip yang berkelanjutan di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. FOTO: AMARTHA

Darilaut – Amartha berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sedang mengembangkan industri wisata dengan prinsip yang berkelanjutan di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Program Desa Berdaya Amartha tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Botubarani melalui program ekonomi sirkular daerah pesisir dan digitalisasi usaha menengah kecil dan mikro (UMKM).

Untuk mendorong ekonomi sirkular, Amartha dan Recycling Village memfasilitasi lokakarya daur ulang limbah plastik di wilayah pesisir menjadi aksesoris fesyen bernilai ekonomis.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan, ekonomi kreatif merupakan lokomotif masa depan ekonomi Indonesia. Produk fesyen berkelanjutan juga termasuk dalam sektor ekonomi kreatif yang diharapkan dapat terus tumbuh.

Kemenparekraf mendukung inisiatif yang dilakukan Amartha di Desa Botubarani dalam mendorong digitalisasi UMKM dan pelatihan produksi fesyen berkelanjutan.

“Semoga kolaborasi ini menjadi permulaan yang baik untuk mendukung ekonomi dan pariwisata Indonesia kedepannya,” kata Menparekraf.

Program di desa Botubarani merupakan langkah awal kolaborasi Amartha dan Kemenparekraf untuk membangun industri pariwisata berkelanjutan yang mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat di tingkat ekonomi akar rumput.

Produksi barang ekonomi kreatif di pedesaan berpotensi memberikan pendapatan tambahan bagi komunitas dan tingkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan wisata seperti Desa Botubarani.

Adapun lokakarya daur ulang limbah plastik didukung oleh Recycling Village, jenama (merek) lokal yang memproduksi barang fesyen berkelanjutan dari daur ulang limbah plastik. Recycling Village memfasilitasi perempuan di Desa Botubarani untuk membuat aneka aksesoris seperti tas, dompet, card holder, dan lain-lain, dari hasil daur ulang plastik. Tidak hanya itu, Recycling Village juga memastikan kualitas produk bermutu tinggi agar memiliki nilai jual yang bagus.

Peresmian Desa Berdaya Amartha di desa Botubarani diselenggarakan bertepatan dengan peringatan HUT RI ke-79. Selain melaksanakan edukasi literasi digital dan lokakarya daur ulang limbah plastik, Amartha juga melakukan perbaikan fasilitas umum seperti warung kelontong, fasilitas wisata, perahu nelayan, hingga mural tematik.

Desa Botubarani telah menerima pengakuan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI melalui penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023. 

Chief Risk and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto,  mengatakan, Amartha mengamati potensi ekonomi akar rumput di wilayah pesisir dapat berkembang dengan adanya intervensi teknologi dan peningkatan literasi.

”Program Desa Berdaya merupakan komitmen Amartha untuk berupaya menyediakan teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan ekonomi segmen akar rumput, sekaligus mempromosikan ekonomi sirkular sebagai langkah konkrit menyejahterakan masyarakat pesisir,” ujarnya.

Sebelumnya, warga di Desa Botubarani telah membuat kreasi dengan memanfaatkan sampah plastik untuk dijadikan suvenir hiu paus.

Suvenir hiu paus. FOTO: DARILAUT.ID

Bahan plastik yang digunakan untuk suvenir ini pada bagian sirip dan ekor. Bagian lain menggunakan kayu atau balok bekas.

Pemandu wisata hiu paus di Botubarani Olis Latief mengatakan suvenir ini menggunakan bahan sampah plastik dan bahan bekas berupa potongan balok atau kayu bekas.

Suvenir (cendera mata) hiu paus diminati pengunjung yang datang untuk melihat hiu paus di perairan Botubarani.

Perairan Botubarani dikenal sebagai salah satu destinasi ekowisata hiu paus di Gorontalo.

Exit mobile version