Darilaut – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dan Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY) mendorong dunia media dan dunia akademik dapat bersinergi dalam membangun ekosistem informasi yang sehat. Hal ini tertuang dalam penandatanganan kerja sama pada Jumat (10/4).
Penandatanganan nota kesepahaman antara AMSI dengan UAJY diwakili oleh Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika dengan Rektor UAJY, Dr. G. Sri Nurhartanto SH, LLM di auditorium Kampus 4 UAJY.
Acara dilanjutkan dengan kuliah umum oleh Ketua Umum AMSI dengan mengusung tema “Kekuatan Profesi Jurnalis di Era Digital”.
Rektor UAJY, Sri Nurhartanto, menyoroti keresahan masyarakat terhadap kredibilitas informasi di era digital.
Menurut Rektor, banjir informasi justru membuat publik kesulitan memilah mana informasi yang dapat dipercaya.
“Kami sangat mendukung media untuk menyajikan berita yang tajam, tepercaya, objektif, dan independen,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan, Universitas Atmajaya Yogyakarta membuka akses luas bagi media untuk memanfaatkan sumber daya akademik, termasuk pakar dan hasil riset dari dosen serta sivitas akademika.
“Kami punya pakar, punya hasil riset yang itu bisa digunakan media untuk membuat beritanya semakin terpercaya,” ujarnya.
Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika mengatakan kerja sama AMSI dengan UAJY menjadi momentum lahirnya sebuah kerangka kerja sama (framework) yang kokoh dan memberikan manfaat nyata bagi kedua institusi, baik dari sisi akademik maupun media.
Menurut Wahyu, media tidak menutup mata terhadap keresahan masyarakat saat ini mengenai kredibilitas informasi di ruang digital.
Di tengah kondisi “banjir informasi”, masyarakat justru sering kali merasa bingung dan takut dalam menentukan informasi mana yang benar-benar dapat dipercaya dan dijadikan rujukan.
Ketua Umum AMSI menyetujui pendapat rektor UAJY, bahwa kampus merupakan pusat pengetahuan, karena memiliki para ahli, peneliti, dan guru besar yang mendedikasikan diri pada berbagai bidang ilmu.
Namun, harus diakui bahwa selama ini distribusi produk pemikiran kampus masih sangat terbatas pada komunitas akademik, misalnya terbit di jurnal ilmiah.
Di sisi lain, kata Wahyu, masyarakat awam di luar kampus sangat “haus” akan informasi berbasis riset. Mereka membutuhkan jawaban atas persoalan nyata, mulai dari solusi pengelolaan sampah, isu lingkungan, hingga dampak hancurnya biodiversitas terhadap kehidupan sehari-hari.
Jawaban-jawaban tersebut sebenarnya ada di dalam kampus, namun sering kali tidak utuh tersampaikan ke ruang publik.
“AMSI memiliki anggota lebih dari 500 media online di 28 provinsi. Kami berharap AMSI dapat menjadi jembatan yang menyambungkan kekayaan informasi dari kampus kepada masyarakat luas,” ujar Wahyu.
UAJY dan AMSI berkomitmen untuk menjadikan kolaborasi ini sebagai model percontohan bagi kerja sama dengan komunitas akademik lain di berbagai daerah.
