Darilaut – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Kepulauan Riau menggelar seminar bertajuk “AI: Ancaman atau Peluang?” yang menyasar mahasiswa, jurnalis, serta pelaku media di Kota Tanjungpinang. Kegiatan yang berlangsung di Hotel CK, Sabtu (13/12), menjadi ruang diskusi terbuka untuk membedah peran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia jurnalistik yang kian berkembang pesat.
Seminar ini menghadirkan sejumlah pemateri dari kalangan praktisi media dan dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura. Dalam sambutannya, Nyanyang memberikan apresiasi terhadap inisiatif AMSI Kepri yang dinilainya responsif terhadap tantangan zaman, khususnya di tengah masifnya penggunaan AI oleh Generasi Z.
Menurut Nyanyang, perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, termasuk dalam industri media. Namun, ia menekankan bahwa media harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik.
“Media harus tetap menjadi garda terdepan dalam menyediakan informasi yang edukatif, berimbang, dan bebas hoaks,” ujar Nyanyang.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara media dan pemerintah daerah. Menurutnya, peran media sangat strategis dalam menyampaikan berbagai program, kebijakan, dan aktivitas pemerintah kepada masyarakat luas.
“Tanpa media, berbagai kegiatan dan program pemerintah mungkin tidak akan tersampaikan dengan baik kepada masyarakat Kepulauan Riau.”
Lebih lanjut, Nyanyang berharap media di Kepri tidak hanya memanfaatkan teknologi untuk kecepatan produksi berita, tetapi juga menjaga akurasi dan kredibilitas di tengah banjir informasi digital.
Sementara itu, salah satu pemateri seminar, Jailani, menegaskan bahwa kehadiran AI dalam dunia jurnalistik seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman mutlak. Menurutnya, AI memiliki keterbatasan fundamental yang tidak bisa menggantikan peran utama jurnalis.
“Tugas jurnalis seperti melakukan konfirmasi fakta, peliputan langsung di lapangan, pengambilan gambar, hingga penyusunan narasi yang utuh tetap membutuhkan kepekaan, intuisi, dan pertimbangan manusia. AI tidak bisa menggantikan itu.”
Ia menjelaskan bahwa AI lebih tepat diposisikan sebagai alat bantu atau tools untuk mendukung kerja jurnalistik, seperti membantu riset awal, pengolahan data, hingga distribusi konten agar lebih efisien dan menjangkau audiens yang lebih luas.
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut juga menyoroti tantangan etika penggunaan AI dalam media, termasuk potensi penyebaran disinformasi, manipulasi konten, serta ancaman terhadap orisinalitas karya jurnalistik. Para peserta diajak untuk lebih kritis dan bijak dalam memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan nilai-nilai jurnalistik.
Melalui seminar ini, AMSI Kepri berharap mahasiswa dan insan media dapat memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai peran AI, sekaligus siap menghadapi transformasi digital di industri media. AI, disepakati bersama, bukanlah pengganti jurnalis, melainkan mitra kerja yang harus digunakan secara bertanggung jawab demi masa depan media yang berintegritas.
