Darilaut – Badai siklon (cyclonic storm) Ditwah yang mendarat dan melintasi Sri Lanka, pada pada Kamis (27/11) malam hingga Jumat (28/11) menewaskan 366 orang.
Melansir Aljazeera.com pemerintah telah meminta bantuan internasional dan menggunakan helikopter militer untuk menjangkau masyarakat yang terlantar akibat banjir dan tanah longsor yang dipicu oleh Siklon Ditwah.
Setidaknya 366 orang tewas, menurut pihak berwenang, sementara 367 orang lainnya hilang.
Seorang pilot helikopter “secara tragis kehilangan nyawanya” saat melakukan pendaratan darurat “dalam misi untuk mendukung masyarakat yang terdampak banjir di Lunuwila,” di utara Kolombo, Angkatan Udara Sri Lanka mengatakan dalam sebuah unggahan di Facebook pada hari Senin (1/12).
Para pejabat mengatakan tingkat kerusakan di wilayah tengah yang paling parah terkena dampak baru terungkap ketika para petugas bantuan membersihkan jalan-jalan yang terhalang oleh pohon tumbang dan tanah longsor.
Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, mengumumkan keadaan darurat untuk menangani bencana tersebut, berjanji untuk membangun kembali.
“Kita menghadapi bencana alam terbesar dan paling menantang dalam sejarah kita,” kata Dissanayake dalam pidatonya kepada rakyat.
“Ini adalah krisis kemanusiaan berskala bersejarah,” ujar Sampath Kotuwegoda, direktur jenderal pusat penanggulangan bencana, kepada Al Jazeera, seraya menambahkan bahwa seluruh 25 distrik di negara tersebut telah terdampak.
Tim penyelamat dari India, Pakistan, Bangladesh, dan Jepang telah tiba untuk membantu tanggap darurat, tetapi para pejabat mengatakan dukungan lebih lanjut masih dibutuhkan.
