Badai Siklon Senyar Tinggalkan Jejak Kehancuran di Sumatra Utara dan Aceh

Kondisi jembatan yang terputus akibat banjir di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, Selasa (25/11). FOTO: BPBD Kabupaten Tapanuli Utara/BNPB

Darilaut – Badai siklon (cyclonic storm) Senyar telah kembali ke Selat Malaka meninggalkan jejak kehancuran di Sumatra Utara dan Aceh.

Delapan warga di Tapanuli Selatan meninggal dunia akibat banjir dan longsor, satu orang dilaporkan hilang karena hanyut terbawa arus sungai di Padang Sidempuan.

Banjir menghantam tujuh kabupaten dan kota di Sumatra Utara dan Aceh.

Saat ini, pada Kamis (27/11) dini hari, Senyar sudah berada di pesisir Kota Medan. Badai Senyar akan melintasi Selat Malaka mengarah ke barat Malaysia.

Siklon tropis Senyar mendarat di dekat Kota Langsa, Aceh, pada Rabu (26/11). Badai ini kemudian berbelok ke selatan melintasi daratan Sumatera Utara, terus ke tenggara dan timur.

Berdasarkan aplikasi Zoom.earth, sistem ini diperkirakan akan bergerak ke timur dan timur-timur laut menuju Malaysia. Selama melintasi daratan Senyar mempertahankan kekuatannya sejak Rabu hingga Kamis.

Pusat Peringatan Topan Gabungan (JTWC) mengatakan Senyar telah bergerak ke arah timur-tenggara dengan kecepatan 7 km per jam (4 knot) selama 6 jam terakhir.

Siklon Tropis Senyar berada di dekat Kota Medan, Sumatra Utara, pada Rabu (26/11) malam. GAMBAR: ZOOM.EARTH

Tinggi gelombang signifikan maksimum adalah 3,7 meter (12 kaki), kata JTWC.

Senyar diprakirakan akan berbelok ke timur karena pengaruh arah barat yang rendah hingga menengah membawa sistem kembali ke Selat Malaka.

Prakiraan JTWC pendaratan di sepanjang pantai barat Malaysia akan terjadi dalam waktu sekitar 2 hari. Namun, prakiraan ini memiliki tingkat keyakinan rendah karena disipasi total di daratan Sumatra masih mungkin terjadi.

Banjir di Sumatra Utara

Banjir dan tanah longsor terjadi di Kabupaten Tapanuli Utara, Kota Padang Sidempuan, Sibolga, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.

Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat di Kabupaten Sibolga,cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan deras dalam durasi lebih dari dua hari telah memicu terjadinya bencana banjir dan tanah longsor.

Banjir mengalir cukup deras dan menghantam rumah, menyeret kendaraan hingga infrastruktur lain yang dilewatinya. Arus air itu juga membawa material seperti lumpur, batang pohon, puing bangunan dan sampah rumah tangga.

Sementara tanah longsor menerjang sejumlah wilayah di Sibolga.

Dari wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, bencana banjir dan tanah longsor telah menyebabkan delapan warga meninggal dunia, 58 luka-luka dan 2.851 warga terpaksa harus mengungsi.

Kondisi banjir yang melanda wilayah Kabupaten Padang Sidempuan, Provinsi Sumatera Utara pada Selasa (25/11). FOTO: BPBD Kabupaten Padang Sidempuan/BNPB

Di Kabupaten Tapanuli Utara sebanyak 50 unit rumah terdampak dan dua jembatan terputus akibat banjir serta tanah longsor.

Beralih ke wilayah Tapanuli Tengah, sebanyak 1.902 unit rumah terdampak banjir. Begitu pula banjir di Tapanuli Utara yang juga menyebabkan dua jembatan penghubung rusak dan tidak bisa dilalui warga.

Peristiwa banjir juga terjadi di Kota Padang Sidempuan. Hasil kaji cepat 220 jiwa dan 17 unit rumah terdampak. Satu orang dilaporkan hilang karena hanyut terbawa arus sungai. Lokasi kejadian di Kelurahan Hamopan Sibatu, Kecamatan Padang Sidempuan Selatan.

Banjir di Aceh

BNPB mencatat banjir terjadi di Kota Langsa, Provinsi Aceh. Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi selama beberapa hari terakhir, mengakibatkan banjir pada Selasa (25/11) pukul 10.20 WIB.

Sebanyak 420 warga dari 150 kepala keluarga yang tinggal di Gampong Paya Bujok Seulemak, Kecamatan Langsa Baro terdampak dari kejadian ini. Ketinggian muka air berkisar antara 20 sampai 40 sentimeter.

Banjir juga terjadi di Kabupaten Agam pada Selasa (25/11) sore. Wilayah terdampak yaitu Nagari Kampung Tengah di Kecamatan Lubuk Basung dan Nagari Bawan di Kecamatan Ampek Nagari.

Siklon Tropis Senyar

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau Bibit Siklon 95B di kawasan Selat Malaka, bagian timur Aceh telah berevolusi menjadi Siklon Tropis Senyar pada 26 November 2025 pukul 07.00 WIB.

Berdasarkan pemantauan terakhir, siklon ini bergerak ke arah barat menuju wilayah daratan Aceh dengan kecepatan sekitar 10 km per jam dan dapat berdampak signifikan terhadap potensi terjadinya hujan sangat lebat hingga ekstrem yang dapat disertai angin kencang di wilayah sekitarnya.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan kondisi ini meningkatkan suplai air di perairan hangat Selat Malaka yang memicu pertumbuhan awan konvektif di bagian utara Sumatra.

Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani, menjelaskan, Indonesia memang berada dekat garis ekuator yang secara teori kurang mendukung terbentuknya atau dilintasi siklon tropis.

Meski begitu, Andri menyampaikan bahwa dalam lima tahun terakhir cukup banyak siklon tropis yang bergerak mendekati wilayah Indonesia dan memberikan dampak yang signfikan.

“Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum di wilayah perairan Selat Malaka, apalagi jika sampai melintasi daratan,” kata Andri.

Exit mobile version