Darilaut – Badai tropis (tropical storm) Krovanh saat ini berada sangat dekat dengan Pulau Amami, Jepang, pada Kamis (3/9) malam.
Topan Jepang nomor 24 tersebut, bergerak ke utara barat laut, kemudian diperkirakan mengarah ke barat-barat laut dan akan berbelok ke selatan mendekati Kepulauan Okinawa.
Selajutnya, sistem diperkirakan akan ke timur tenggara dan timur laut dalam beberapa hari ke depan.
Saat ini, pada pukul 21.00 waktu setempat, Krovanh bergerak dengan kecepatan 20 km per jam (11 knot), dengan tekanan udara pada pusatnya 990 hPa (hektopaskal), menurut Badan Meteorologi Jepang – Japan Meteorological Agency (JMA).
JMA mengatakan Krovanh dengan kecepatan angin maksimum di sekitar pusat 20 meter per detik (40 knot) dan kecepatan angin instan maksimum 30 meter per detik (60 knot).
Area angin kencang dengan kecepatan 30 knot atau lebih di barat-laut 440 km (240 NM) dan tenggara 330 km (180 NM), kata JMA.
Selama enam jam terakhir, menurut Pusat Peringatan Topan Gabungan — Joint Typhoon Warning Center (JTWC), Krovanh telah bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan 24 km per jam (13 knot).
Tinggi gelombang signifikan maksimum mencapai 6,1 meter (20 kaki), kata JTWC.
Sistem ini akan melanjutkan pergerakan secara umum ke arah barat laut selama 24 jam ke depan.
JTWC mengatakan sebuah palung tekanan rendah (trough) yang bergerak cepat melintasi Semenanjung Korea akan memungkinkan terbentuknya ridge atau punggung tekanan tinggi di daratan Cina, yang memicu aliran udara dingin dan kering dari arah timur laut mulai dari permukaan hingga ketinggian 500 hPa.
Kondisi ini akan menyebabkan Krovanh melambat dan berhenti bergerak (stall) dalam kurun waktu 24 hingga 36 jam, menurut JTWC.
Dalam 3 hari, Krovanh akan terbawa oleh aliran angin barat daya lapisan dalam yang terkait dengan rotasi siklonik luas yang mendominasi wilayah di selatan Honshu, lalu bergerak ke arah timur dan kemudian timur laut.
Prakiraan menunjukkan tren sedikit melemah antara jam ke-24 dan ke-36, diikuti oleh tren intensitas yang relatif stabil selama 5 hari berikutnya.
Kondisi lingkungan akan tetap serupa hingga sistem berhenti bergerak dan bertemu dengan aliran angin timur laut dalam waktu sekitar 24 jam. Aliran angin ini akan sedikit melemahkan sistem dengan memasukkan tambahan udara kering dan meningkatkan wind shear (perubahan kecepatan/arah angin).
JTWC mengatakan terdapat ketidakpastian yang signifikan dalam prakiraan lintasan dan intensitas jangka panjang akibat perbedaan kekuatan ridge yang akan meluas ke tenggara, orientasi aliran angin barat daya, serta potensi interaksi dengan gangguan tropis 97W yang sedang berkembang di sebelah timur.
