Banjir Dahsyat Kembali Menghantam Nepal

Citra udara yang memperlihatkan kondisi sebelum dan sesudah banjir yang melanda wilayah Budhi Gandaki, serta titik awal kejadian tersebut. GAMBAR: QIAO LIU/IMHE/WMO

Darilaut – Nepal kembali dilanda banjir dahsyat, menyoroti perlunya tindakan terkoordinasi untuk mengatasi risiko kompleks akibat berbagai bahaya di wilayah pegunungan tinggi.

Laporan awal dari otoritas Nepal yang ditinjau oleh International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menyebutkan jebolnya bendungan alami sementara akibat tanah longsor kemungkinan memicu banjir bandang yang menerjang sistem sungai Budhi Gandaki di Nepal tengah pada 11 Oktober.

Direktur Jenderal ICIMOD, Pema Gyamtsho, mengatakan bahwa peristiwa ini —yang terjadi tak lama setelah bencana Gyirong-Rasuwa— menjadi pengingat kembali betapa rentannya masyarakat pegunungan dan koridor sungai terhadap bahaya mendadak yang saling memicu (berantai).

“Meskipun upaya tanggap darurat harus tetap menjadi prioritas utama, memahami pemicu banjir ini sangatlah penting untuk mengurangi risiko di masa depan dan memperkuat ketahanan,” ujar Gyamtsho seperti dikutip dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

Pihak berwenang telah mengeluarkan peringatan bagi masyarakat di sepanjang aliran sungai tersebut. Berdasarkan laporan awal, terdapat sejumlah orang yang hilang serta kerusakan parah pada rumah, jembatan, dan infrastruktur pembangkit listrik tenaga air.

Perubahan Kriosfer

Banjir terbaru ini terjadi saat Nepal sedang berupaya pulih dari peristiwa tanggal 26 Agustus, ketika bongkahan besar batuan dan es gletser lepas dari lereng gunung pada ketinggian 5.200 meter dan jatuh ke dasar lembah.

Peristiwa itu memicu banjir besar yang membawa air dan material puing menyusuri sungai Lhende serta sistem sungai Bhote Koshi, menghancurkan permukiman pegunungan dan menelan banyak korban jiwa.

Perubahan pada kriosfer—seperti penyusutan gletser dan mencairnya lapisan tanah beku abadi (permafrost) di pegunungan—serta ketidakstabilan struktural akibat gempa bumi dahsyat lebih dari 10 tahun lalu merupakan faktor-faktor yang kemungkinan berkontribusi terhadap ketidakstabilan lereng.

Menurut para ahli dalam sebuah webinar pada 7 Oktober, suhu yang sangat tinggi sebelum peristiwa runtuhnya material tersebut mungkin telah mempercepat pencairan, dan proporsi curah hujan yang turun sebagai air hujan—alih-alih salju—juga mungkin turut berperan. Associated Programme on Flood Management—sebuah program bersama antara WMO dan Global Water Partnership Organisation—menyelenggarakan webinar bertajuk “Cascading Flood Risks in Mountain Regions: Early Warning, Governance and Resilience” atau Risiko Banjir Berantai di Wilayah Pegunungan: Peringatan Dini, Tata Kelola, dan Ketangguhan.

Acara ini mempertemukan para ahli dari berbagai negara pegunungan untuk berbagi pengalaman serta mengkaji bagaimana negara-negara dapat lebih siap menghadapi dan mengelola bahaya yang terus berkembang.

Risiko-risiko ini muncul seiring dengan perubahan pesat yang terjadi pada lingkungan dataran tinggi. Laporan WMO berjudul State of Global Water Resources 2025 mengungkap seluruh wilayah yang memiliki gletser di dunia mencatat hilangnya massa es bersih (net ice loss) selama empat tahun berturut-turut pada tahun 2025.

Saat membuka webinar tersebut, Anjali Lohani—kepala global untuk investasi ketangguhan air dan iklim di Global Water Partnership Organisation—menekankan perlunya mengaitkan kesiapsiagaan dengan perencanaan investasi dan pendanaan iklim.

Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa sistem pemantauan, peringatan, dan kesiapsiagaan dapat mengimbangi risiko yang terus berubah.

Seiring menyusutnya gletser dan berubahnya lingkungan pegunungan tinggi, bahaya di wilayah pegunungan menjadi semakin kompleks, sehingga memerlukan pemantauan, prakiraan, peringatan dini, dan kesiapsiagaan yang lebih baik, kata Narelle van der Wel, kepala Unit Pemantauan, Prakiraan, dan Layanan Kriosfer WMO.

Exit mobile version