Darilaut – Dalam tiga pekan terakhir, banjir beberapa kali melanda sejumlah wilayah di Provinsi Gorontalo. Banjir pada Sabtu (6/7) hingga Minggu (7/7) tercatat bencana ke-4 di beberapa titik di Gorontalo.
Di sejumlah lokasi yang dilanda banjir tersebut, ada yang sudah lebih dari satu kali rumahnya dimasuki air.
Seperti yang terjadi pada Sabtu malam di Kelurahan Talumolo, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, air rembesan dari pegunungan dan perbukitan menggenangi rumah-rumah. Lokasi ini berdekatan Kantor Kelurahan Talumolo.
Air dari perbukitan ini menuju ke sungai kecil yang tak bisa lagi menampung curah hujan karena sudah tertimbun material pasir dan batu kecil bercampur dengan sampah berbagai jenis.
Sampah tersebut terbawa air deras yang mengalir hingga ke jalan utama, Trans Sulawesi.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur Provinsi Gorontalo, Sabtu siang hingga malam dan Minggu menyebabkan banjir di beberapa lokasi.
Berdasarkan kondisi atmosfer yang ditampilkan Zoom.earth, aplikasi peta cuaca interaktif dunia, wilayah Gorontalo tertutup awan tebal pada Sabtu siang hingga malam. Kondisi cuaca ini membawa hujan di sejumlah wilayah di Gorontalo.
Banjir dari perbukitan dan pegunungan juga terjadi di Desa Timbuolo Tengah dan Panggulo Kabupaten Bone Bolango, Sabtu malam.
Bencana banjir ke-4 dalam tiga pekan terakhir, sejak tanggal 20 Juni 2024 yang melanda Gorontalo.
Sebelumnya, banjir terjadi pada Kamis (20/6) di Kelurahan Botupingge, Kelurahan Bugis dan lokasi lainnya di Gorontalo.
Sejumlah wilayah di Provinsi Gorontalo kembali dilanda banjir pada Rabu 26 Juni 2024. Bencana ini terjadi di Kelurahan Bugis dan Kelurahan Botu, Kecamatan Dumbo Raya, Kelurahan Donggala dan Kelurahan Tenilo Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo Gorontalo.
Pada Rabu (3/7/2024) lokasi di Talumolo kebanjiran. Material tanah, pasir dan batu-batu telah menutup badan Sungai, hingga jembatan kecil. Lonsoran dan material lumpur juga terjadi di Leato Utara yang memutus lalu lintas jalan Trans Sulawesi, tepatnya di kompleks Pelabuhan Gorontalo.
Banjir juga melanda beberapa wilayah seperti di Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan hujan sedang dan lebat berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.
Menurut BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi di bulan Juli dan Agustus 2024. Namun demikian, diketahui hujan masih sering terjadi di banyak wilayah di Indonesia.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan, dalam sepekan ke depan, masih terdapat potensi peningkatan curah hujan secara signifikan di sejumlah wilayah Indonesia.
Fenomena ini disebabkan oleh dinamika atmosfer skala regional – global yang cukup signifikan. Di antaranya, termonitornya aktivitas fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial di sebagian besar wilayah Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Sebagian besar Papua.
Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani, mengatakan, kombinasi pengaruh fenomena-fenomena cuaca diprakirakan menimbulkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat/angin kencang di sebagian besar wilayah Indonesia pada tanggal 5 – 11 Juli 2024.
Wilayah yang dimaksud yaitu, Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Pulau Maluku, dan Pulau Papua.
Andri mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai terhadap kemungkinan adanya potensi hujan yang dapat mengakibatkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang.
