Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini sedang mengembangkan kapal pengolah sampah.
Menurut periset Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Daud Saputra Amare Sianturi, pengembangan kapal pengolah sampah sebagai solusi pengelolaan sampah terpadu di kawasan pesisir dan pulau kecil.
Daud menjelaskan persoalan sampah di wilayah kepulauan, seperti Kepulauan Seribu, memiliki kompleksitas tinggi. Sumber sampah berasal dari aktivitas domestik, sektor pariwisata, hingga sampah kiriman (marine debris) dari daratan.
Dengan timbulan sampah mencapai sekitar 3 hingga 4 ton per hari serta keterbatasan lahan, penerapan teknologi pengolahan sampah konvensional menjadi semakin sulit.
Ada tiga sumber sampah di Kepulauan Seribu, yaitu dari domestik, pariwisata, dan kiriman atau marine debris. Dengan keterbatasan lahan, penggunaan teknologi pengolahan sampah konvensional menjadi isu yang sangat riskan, kata Daud, Rabu (15/4).
Berbagai solusi konvensional seperti insinerator maupun sistem pengelolaan berbasis darat belum mampu menjawab permasalahan secara menyeluruh. Selain keterbatasan ruang, faktor penerimaan masyarakat dan tingginya biaya operasional juga menjadi tantangan utama.
“Banyak masyarakat menolak karena khawatir terhadap dampak pengolahan sampah di darat, seperti bau atau potensi penyakit,” ujar Daud, seperti dikutip dari Brin.go.id.




