Darilaut – Masalah kekeringan, banjir, suhu ekstrem, kenaikan permukaan laut, hingga tekanan yang meningkat terhadap ketersediaan pangan dan air berpotensi diperparah oleh El Niño.
Langkah persiapan bisa jadi sangat praktis: penggunaan benih tahan kekeringan, peningkatan penyimpanan air, perbaikan kualitas tanah, perlindungan ternak, serta sistem peringatan dini yang menjangkau petani cukup awal agar mereka dapat mengubah jadwal tanam atau jenis tanaman.
Asisten Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) sekaligus penanggung jawab bidang iklim, Kaveh Zahedi, mengatakan, El Niño kali ini terjadi di atas kondisi dasar suhu yang jauh lebih tinggi. El Niño terjadi di dunia yang lebih panas, yang berarti dampaknya akan semakin diperparah.
“Banyak hal yang bisa kita lakukan,” ujar Zahedi seperti dikutip dari UN News.
“Kita masih memiliki waktu persiapan… [namun] kita harus bertindak cepat karena kesempatan yang ada semakin terbatas,” katanya. “Langkah-langkah ini harus sudah diterapkan paling lambat bulan Februari atau Maret demi mengamankan panen berikutnya.”
Investasi yang membantu petani menghadapi El Niño dibutuhkan untuk menghadapi iklim yang lebih panas dan sulit diprediksi.
Pengelolaan air yang lebih baik, peringatan dini, tanaman dan ternak yang tangguh, tanah yang lebih sehat, serta ekosistem yang lebih kuat—semuanya bermanfaat untuk kedua tujuan tersebut.
Menurut rumusan FAO, persiapan menghadapi El Niño merupakan bentuk adaptasi iklim dengan tenggat waktu yang lebih singkat.
Namun, dana yang mengalir ke sistem pertanian dan pangan justru semakin berkurang.
Analisis FAO yang akan segera dirilis menunjukkan bahwa pendanaan pembangunan terkait iklim untuk sistem pertanian dan pangan turun sebesar 10 persen pada tahun 2024, menjadi 26,9 miliar dolar AS.
Sektor tanaman pangan, peternakan, kehutanan, dan perikanan hanya menerima sekitar lima persen dari total pendanaan pembangunan terkait iklim.
Di Afrika, pendanaan semacam itu turun sebesar 20 persen, padahal total pendanaan pembangunan terkait iklim untuk benua tersebut justru meningkat.
“Belum cukup banyak dana yang disalurkan ke sektor-sektor produktif dan upaya membangun ketahanan tersebut,” kata Zahedi.
“Hal ini perlu ditingkatkan jika kita ingin menjaga ketahanan pangan, terutama pada tahun terjadinya El Niño.”
Sebelum Krisis Berikutnya Tiba
Argumen tersebut akan dibawa oleh para pemimpin dunia ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim di Markas Besar PBB pada hari Rabu, di mana isu adaptasi dan pendanaan diperkirakan akan menjadi topik utama.
El Niño menambah urgensi dalam perdebatan ini. Kedatangannya tidak dapat dicegah, namun banyak dampak yang mungkin ditimbulkannya sudah dapat dipetakan; dan di beberapa wilayah yang paling berisiko, pemerintah masih memiliki waktu beberapa bulan untuk mengambil tindakan.
Zahedi mengatakan berinvestasi dalam adaptasi untuk menghadapi El Niño adalah langkah yang sangat masuk akal dan jelas manfaatnya.
“Saat ini, kita memiliki peluang emas untuk bertindak,” ujar Zahedi.
Bagi FAO, investasi tersebut bukan sekadar upaya melindungi sektor pertanian dari guncangan iklim, melainkan juga tentang memanfaatkan sektor pertanian itu sendiri sebagai bagian dari solusi.
“Kami tidak hanya memosisikan mereka sebagai pihak yang terdampak atau menjadi korban, melainkan menunjukkan bahwa mereka memiliki solusi,” ujar Zahedi.
Memulihkan lahan yang terdegradasi, memperluas agroforestri, serta menjadikan peternakan dan akuakultur lebih berkelanjutan, menurut Zahedi, dapat memperkuat ketahanan sekaligus mendukung ketahanan pangan, keanekaragaman hayati, dan upaya pengurangan emisi.
“Tidak ada investasi yang lebih baik bagi iklim, ketahanan pangan—dan mungkin juga keanekaragaman hayati—selain solusi sistem pangan pertanian.”
Kedatangan El Niño dari Pasifik Khatuliswa yang memengaruhi iklim global ribuan kilometer dapat dideteksi. El Niño semakin menguat di saat kondisi suhu yang sudah lebih panas, menjadi ujian bagi kemampuan dunia beradaptasi dengan perubahan iklim.
