Bertindak Menghadapi Risiko Kesehatan Akibat El Niño: Panas Ekstrem, Banjir dan Kekeringan Parah

El Niño yang kian menguat diperkirakan akan memicu cuaca panas ekstrem, banjir, dan kekeringan yang lebih parah. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – pembaruan terkini dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), El Niño diperkirakan akan meningkat intensitasnya menjadi fenomena yang sangat kuat menjelang akhir tahun, dengan dampak berantai terhadap perekonomian dan masyarakat. Dampak-dampak tersebut sudah mulai terlihat di sektor-sektor yang sensitif terhadap iklim, seperti sektor kesehatan.

Negara-negara dan masyarakat di seluruh dunia harus segera bertindak untuk bersiap menghadapi peningkatan risiko kesehatan akibat fenomena El Niño yang kian menguat, yang diperkirakan akan memicu cuaca panas ekstrem, banjir, dan kekeringan yang lebih parah.

“El Niño ini adalah sebuah ujian. Kita memiliki landasan ilmiahnya. Kita memiliki sistem peringatan dini. Dan kita masih memiliki waktu untuk bertindak,” ujar Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, dalam sebuah acara di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.

Celeste Saulo mengatakan El Niño bermula dari pemanasan suhu di wilayah Pasifik tropis, namun dampaknya tidak terbatas pada wilayah Pasifik saja.

”Bahkan ribuan kilometer jauhnya, El Niño dapat mengubah pola curah hujan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya suhu ekstrem,” kata Celeste Saulo, mengutip siaran pers WMO.

Dalam kegiatan yang membahas ketahanan kota terhadap suhu panas, menurut Celeste Saulo, di kota-kota yang sudah bergulat dengan masalah suhu panas, dampaknya merambah hingga ke dalam rumah, tempat kerja, sekolah, dan rumah sakit.

Celeste Saulo menyerukan kepada pemerintah, otoritas kesehatan, dan organisasi masyarakat untuk bekerja sama dengan layanan meteorologi guna “memandang suhu panas ekstrem sebagai risiko kesehatan masyarakat yang dapat diprediksi.”

WMO bekerja sama dengan berbagai mitra untuk memperkuat layanan iklim bagi sektor kesehatan. Hal ini mencakup upaya membangun jembatan penghubung yang diperlukan antara komunitas kesehatan dan meteorologi, guna memastikan informasi prakiraan cuaca sampai ke tangan otoritas kesehatan pada waktu yang tepat dan dalam format yang tepat demi menyelamatkan nyawa.

Saat El Niño mencapai puncaknya pada akhir tahun 2026, sebagian besar wilayah Belahan Bumi Selatan—termasuk Afrika bagian selatan, Amerika Selatan, dan Australia—akan memasuki musim terpanas mereka pada bulan-bulan awal tahun 2027.

Suhu panas musiman ini akan berpadu dengan dampak El Niño, sehingga meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, serta paparan asap dan polusi udara yang menyertainya.

Penduduk perkotaan sangat rentan karena bangunan dan jalan raya menyerap panas di siang hari dan melepaskannya secara perlahan pada malam hari.

Kondisi ini membuat kelompok lanjut usia, anak-anak, pekerja luar ruangan, penderita penyakit kronis, serta penghuni rumah dengan ventilasi buruk memiliki sedikit kesempatan untuk memulihkan diri.

Paparan suhu panas berdampak langsung pada fungsi tubuh manusia dan juga dapat memicu kematian serta penyakit parah dengan memperburuk kondisi kesehatan terkait jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), pernapasan, ginjal, metabolisme, maupun kesehatan mental.

Di berbagai belahan dunia, penyakit akibat suhu panas serta penyakit pernapasan yang terkait dengan asap kebakaran hutan dan kualitas udara buruk juga akan menjadi perhatian.

Exit mobile version