Darilaut – Bibit Siklon Tropis 91W bergerak ke barat laut dan saat ini berada di dekat Palau.
91W terletak di timur laut Pulau Morotai, Maluku Utara, atau utara timur laut Sorong, Papua Barat Daya.
Sistem ini memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan, kata Joint Typhoon Warning Center (JTWC).
Bibit 91W mengemas kecepatan angin permukaan maksimum yang berkelanjutan sekitar 20–35 km per jam (12–18 knot).
Tekanan permukaan laut minimum diperkirakan mendekati 1006 hPa (hektopaskal), kata JTWC.
Citra satelit menunjukkan pusat sirkulasi tingkat rendah (LLCC) yang tidak terorganisir dengan konveksi yang meluas di seluruh kuadran barat dan selatan.
Analisis JTWC menunjukkan lingkungan yang sedikit menguntungkan untuk perkembangan dengan geser angin rendah hingga sedang (15–20 knot). Sementara aliran keluar ke kutub yang baik di lapisan atas, dan suhu permukaan laut yang hangat (29–30°C).
Prakiraan melalui model deterministik global sepakat bahwa 91W akan terus intensif selama 24 jam ke depan, kata JTWC.
Bibit Siklon Tropis 91W dapat memberikan dampak berupa hujan, angin kencang dan gelombang laut tinggi di Maluku Utara dan Papua Barat.
Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan bibit siklon tropis 91W memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan di wilayah Indonesia.
Dampak dalam 24 Jam hingga 14 Januari 2026 pukul 07.00 WIB berupa hujan sedang – lebat di Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua.
Angin kencang di Maluku Utara, Papua Barat Daya, dan Papua Barat.
Sementara itu, tinggi Gelombang kategori sedang (1,25 – 2,5 m) di Laut Maluku, Perairan Raja Ampat bagian utara, Perairan Biak, Perairan Serui, Teluk Cendrawasih dan Samudra Pasifik utara Papua Barat hingga Papua.
Tinggi Gelombang kategori tinggi (2,5 – 4,0 m) di Perairan Utara Manokwari dan dan Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua Barat Daya, kata BMKG.
Selain itu, menurut BMKG, daerah konvergensi diprediksi memanjang di Kepulauan Riau, Riau, Pesisir barat Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Lampung, Dk Jakarta, Jawa Tengah, DIY, Jawa timur, Sulawesi Utara, Sulawesi tengah, Sulawesi barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.
Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/ konfluensi tersebut.
