Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Biro Meteorologi (Bureau of Meteorology, BoM) Australia terus memperkuat kerja sama layanan iklim dan pengembangan transisi energi terbarukan.
Untuk membahas hal tersebut dilakukan pertemuan melalui workshop pengembangan produk layanan iklim pada sektor energi.
Selain itu, seminar ilmiah “Weather for Energy Transition in Southeast Asia (WETSA)”. Kegiatan ini berlangsung di Kantor BMKG selama tiga hari, pada 19 – 21 Mei 2025.
Di BMKG, tim Biro Meteorologi Australia mengunjungi ruang operasional Climate Early Warning System (CEWS).
Di tempat ini disampaikan mengenai proses kerja pengolahan data analisis iklim dan kualitas udara di seluruh Indonesia, serta inovasi-inovasi yang telah dilakukan.
Sebagai contoh seperti hadirnya DBDKlim, sebagai langkah preventif dalam menekan jumlah penderita DBD pada suatu wilayah.
Kemudian, Galeri BAIK (Bumi Atmosfer Iklim Kualitas udara) yang berada di lobi Gedung B, di mana para tamu antusias dengan beragam display informasi iklim dan kualitas udara yang dihadirkan.
Agenda lainnya mengunjungi Meteorology Early Warning System (MEWS) dan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).
Di ruang operasional meteorologi dan gempabumi tsunami tersebut, disampaikan proses pengolahan data, diseminasi informasi kepada publik, dan lain-lain.
Termasuk saat muncul peringatan terjadi gempa bumi real time saat kunjungan berlangsung.
Simulasi gempa juga diperkenalkan dengan beberapa tingkatan magnitudo yang berbeda-beda.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan workshop kolaborasi antara BMKG dan Biro Meteorologi Australia ini bukan hanya memperkuat kerja sama yang telah terjalin sebelumnya.
Namun juga dapat menjadi wadah sharing knowledge bagi para peserta, sebagai salah satu upaya dalam mengembangkan produk layanan iklim pada sektor energi terbarukan, kata Ardhasena.
