Darilaut – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama sejumlah ahli geologi dari berbagai perguruan tinggi dan badan riset, termasuk Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan kajian sesar aktif Gorontalo.
Kegiatan ini akan berlangsung selama empat bulan, September hingga Desember 2024.
Dua dosen UNG yang berpartisipasi dalam riset ini adalah Ketua Jurusan Ilmu dan Teknologi Kebumian UNG Dr Aang Panji Permana dan Koordinator Prodi Teknik Geologi UNG Noviar Akase, M.Sc.
Keterlibatan ini merupakan bagian dari komitmen universitas untuk mendukung upaya mitigasi bencana alam di Gorontalo.
Dalam kajian ini, Prodi Teknik Geologi UNG berperan dalam analisis geologi permukaan dan penyelidikan lapangan.
Tim riset bekerja sama dengan dengan ahli dari BMKG, Badan Geologi, serta Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG).
Survei lapangan yang dilakukan oleh tim ini mencakup survei pendahuluan, akuisisi data lidar, hingga analisis geomorfologi dan geofisika.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi, khususnya di wilayah Gorontalo,” kata Permana.
Plt Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Rahmat Triyono, mengatakan, Gorontalo terletak di zona tektonik aktif yang perlu diwaspadai.
“Keberadaan sesar aktif di daratan sangat penting untuk dipahami guna mengurangi risiko yang mungkin timbul dari gempa bumi,” ujarnya.
Penelitian ini didanai sepenuhnya oleh World Bank melalui program Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP).
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi penting mengenai keaktifan zona sesar di Gorontalo dan menjadi acuan bagi langkah-langkah mitigasi bencana di masa depan.
