Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan dampak musim kemarau mulai terlihat di sejumlah wilayah Indonesia.
Pada periode 27–29 Juli 2026, kekeringan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Jawa Tengah, sementara kebakaran hutan dan lahan juga teridentifikasi di berbagai daerah.
Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa kondisi kering mulai memberikan dampak nyata, berupa berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya jumlah titik panas, serta semakin tingginya risiko kebakaran pada lahan dan vegetasi yang mengering.
Menurut BMKG, munculnya berbagai dampak musim kemarau tersebut sejalan dengan hasil pemantauan titik panas, dimana berdasarkan citra satelit pada 29 Juli 2026, terdapat 1.729 titik dengan tingkat kepercayaan sedang yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi juga tercatat sebanyak 117 titik, yang sebagian besar terdeteksi di Papua dan Maluku (85 titik), disusul Kalimantan (25 titik), Sulawesi (4 titik), dan Nusa Tenggara (3 titik).
Dominasi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah – wilayah tersebut menunjukkan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan di tengah meluasnya kondisi kering, meskipun verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kejadian kebakaran, kata BMKG.
Meskipun dampak kemarau sudah secara nyata dirasakan, bukan berarti hujan tidak dapat terjadi.
Pada tanggal 27–29 Juli 2026, hujan lebat hingga sangat lebat masih tercatat secara lokal di Sumatera Barat (126 mm/hari), Kepulauan Riau (97 mm/hari), Aceh (83,5 mm/hari), Jawa Barat (53,4 mm/hari), dan Sumatera Utara (52,6 mm/hari).
BMKG mengatakan hujan tersebut didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang memengaruhi sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah. Anomali OLR negatif pada periode yang sama juga mengindikasikan adanya peningkatan tutupan awan yang mendukung potensi pembentukan awan hujan di wilayah tersebut.
