Darilaut – Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan membahas ’Konservasi Integratif Paus Berbasis Kosmologi Hidup Masyarakat Adat Lamalera, Lembata, Nusa Tenggara Timur’.
Kegiatan ini direncanakan akan berlangsung pada Rabu (15 /7) di Gedung Widya Graha, BRIN.
Forum ini berfokus pada integrasi data lapangan pesisir, serta metodologi penulisan kritis. Salah satu narasumber dalam kegiatan ini Dr. Bona Beding, pakar yang juga mendalami literatur kebudayaan maritim di Lamalera.
Kegiatan dalam SEA-CCHange Belmont Forum Project merupakan proyek penelitian internasional lintas negara yang mengkaji dinamika perubahan sosial, budaya, dan lingkungan dalam menghadapi risiko iklim.
Lamalera (Indonesia) menjadi salah satu dari tujuh studi kasus krusial yang memerlukan analisis lintas disiplin, pemetaan pengetahuan lokal, serta integrasi perspektif sosio-antropologi.
Belum lama ini, pada Jumat (10/7), Dr. Alexander Aur melakukan kajian mendalam melalui disertasi mengenai ”Konservasi Integratif Paus Berbasis Kosmologi Masyarakat Adat Lamalera, Lembata, Nusa Tenggara Timur.” Bahasan ini untuk Program Doktor Ilmu Lingkungan di Soegijapranata Catholic University atau Universitas Katolik Soegijapranata (Unika).
Pemerintah Indonesia menjadikan kawasan konservasi Laut Sawu, termasuk berbagai jenis paus, berdasarkan hukum negara dan hukum internasional. Kondisi ini memunculkan resistensi dan penolakan oleh masyarakat adat Lamalera di Kabupaten Lembata, NTT.
Pemerintah mengeluarkan laut adat Lamalaera dari zona konservasi dan menempatkannya sebagai zona perikanan tradisional.
Hal ini belum cukup memadai dalam menggeser atau menggantikan paradigma dan pendekatan konservasi lama, yakni paradigma dan pendekatan konvensional atau fortress conservation.
Resistensi dan ”penolakan masyarakat adat Lamalera” menunjukkan bahwa ada persoalan dalam kebijakan tersebut.
Penggunaan paradigma dan pendekatan konservasi konvensional atau fortress conservation: manusia merupakan ancaman utama bagi kelestarian lingkungan sehingga perlindungan alam harus dilakukan dengan cara membatasi dan memisahkan secara tegas ruang manusia dan ruang alam, kata Dr. Alex.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Alex kemudian melakukan penelitian ”Konservasi Integratif Paus Berbasis Kosmologi Masyarakat Adat Lamalera” baik dari sisi empiris dan teoretis.
Alex mengatakan bahwa kosmologi masyarakat adat sebagai sumber ontologis, epistemik, normatif dan institusional dalam tata kelola konservasi. Ini menjamin keseimbangan relasi manusia (kampung) dan lingkungan (laut, paus), dan leuluhur, Tuhan berlangsung secara berkelanjutan.
