Darilaut – Laut Sawu di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) koridor penting migrasi spesies cetacea baik paus yang tak bergigi (Mysticeti) dan paus bergigi (Odontoceti). Sedikitnya 21 spesies cetacea melintas di koridor atau jalur migrasi ini.
Sejak ratusan tahun lalu, dua tempat di NTT, Lamalera di pantai selatan Pulau Lembata dan Lamakera di Pulau Solor, telah memanfaatkan paus dengan cara menangkap di musim tertentu.
Ahli kelautan Dr. Anugerah Nontji mengatakan suatu hal yang unik, di dunia perikanan paus di daerah tropis yang telah berjalan ratusan tahun lalu hanya terdapat di Indonesia.
“Itu pun hanya dikenal pada dua desa nelayan, yakni Lamalera di pantai selatan Pulau Lembata dan Lamakera di Pulau Solor,” tulis Anugerah Nontji (Laut Nusantara, 1987/1993).
Menurut Anugerah Nontji, di Lamalera spesialis menangkap lodan, sebutan untuk paus sperma (sperm whale), raksasa laut yang bergigi. Di Lamakera mempunyai keahlian menangkap paus yang tak bergigi, yang disebut karanu.
Dengan perahu kecil tradisional yang disebut peledang, mereka dengan berani menangkap paus dengan bersenjatakan kafe (serait; harpoon) yang khas. Dan dilontarkan seorang ahli sambil berdiri di depan haluan.
Sejak dulu, penangkapan paus di perairan tersebut tidak dilakukan secara besar-besaran. Hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat setempat.



