Darilaut – Malam di Pendhapi Gedhe Balaikota Surakarta terasa berbeda. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan topeng-topeng yang berkilau, seolah hidup dan bernapas bersama denting gamelan serta sorot mata penonton.
International Mask Festival (IMF) bukan sekadar agenda tahunan di Solo, ia adalah perayaan ingatan kolektif, ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini.
Di antara kerumunan itu, perhatian saya tertambat pada satu hal, perempuan-perempuan yang berdiri di balik topeng, membawa kecantikan yang tak sekadar visual, melainkan penuh makna.
Topeng sering kali dipahami sebagai alat penyamaran, penutup wajah, bahkan simbol jarak antara manusia dan dirinya sendiri. Namun di IMF, topeng justru menjadi medium pernyataan. Ketika dikenakan oleh perempuan, ia berubah menjadi bahasa tubuh, ekspresi batin, dan cara lain untuk merayakan kecantikan yang tidak selalu harus patuh pada standar umum.
Kecantikan dalam topeng bukan tentang simetri wajah atau riasan sempurna, melainkan tentang bagaimana tubuh bergerak, mata berbicara, dan karakter hidup di balik lapisan kayu atau serat yang dipahat penuh filosofi.
Para penari perempuan di IMF tampil dengan presisi yang mengagumkan. Gerak mereka tegas namun lembut, kuat tetapi tetap menyisakan ruang bagi keheningan. Di situlah kecantikan menemukan bentuknya: bukan dalam senyum yang terlihat, melainkan dalam energi yang dirasakan.
Topeng seolah memberi kebebasan, membiarkan perempuan keluar dari identitas personalnya dan memasuki peran kolektif sebagai penjaga cerita budaya. Dalam ruang itu, perempuan tidak lagi dituntut “tampil cantik” dalam arti sempit, tetapi “bermakna” dalam arti yang lebih luas.
Sebagai jurnalis yang datang dari Gorontalo, pengalaman menyaksikan IMF menghadirkan perasaan yang campur aduk: kagum, hangat, sekaligus reflektif. Solo memiliki tradisi topeng yang dirawat dan dirayakan dari tahun ke tahun.
Festival ini bukan sesuatu yang tiba-tiba ada, melainkan hasil dari konsistensi panjang, kepercayaan pada nilai budaya, dan keberanian untuk menempatkan tradisi di ruang publik modern. Topeng di Solo tidak diperlakukan sebagai benda museum, melainkan sebagai tubuh hidup yang terus bergerak mengikuti zaman.
Berbeda dengan Gorontalo, daerah saya berpijak, yang tidak memiliki tradisi topeng sebagai praktik budaya utama. Jika ada satu festival yang paling sering saya lihat dan rasakan gaungnya, maka Festival Karawo-lah jawabannya. Karawo, seni sulam khas Gorontalo, menjadi simbol identitas, kesabaran, dan ketelitian, yang sebagian besar diwariskan dan dijaga oleh perempuan.
Di sana, kecantikan hadir dalam bentuk benang-benang halus yang disulam perlahan, membutuhkan waktu, ketekunan, dan rasa. Jika perempuan Solo berbicara lewat gerak dan topeng, maka perempuan Gorontalo berbicara lewat kain dan sulaman.
Topeng dan karawo mungkin berbeda medium, tetapi keduanya berbicara tentang hal yang sama: bagaimana perempuan merepresentasikan dirinya melalui budaya. Keduanya adalah bahasa nonverbal yang kuat, sama-sama lahir dari tradisi, dan sama-sama menyimpan cerita panjang tentang identitas.
Keberagaman inilah yang membuat kebudayaan Indonesia terasa magis. Tidak semua daerah harus memiliki tradisi yang sama untuk menjadi kaya. Justru perbedaan itulah yang menciptakan keunikan. Solo dengan topengnya, Gorontalo dengan karawonya. Keduanya berdiri sejajar sebagai ekspresi kecantikan budaya yang berbeda wajah, tetapi serupa jiwa. IMF mengingatkan saya bahwa budaya tidak pernah Tunggal. Ia selalu jamak, berlapis, dan penuh tafsir.
Dalam konteks IMF, perempuan tampil sebagai pusat gravitasi. Mereka bukan pelengkap panggung, melainkan narasi itu sendiri. Di balik topeng, perempuan mengartikulasikan kemarahan, ketenangan, hasrat, dan kebijaksanaan.
Empat sifat manusia yang di kemas dalam sebuah tarian topeng Janma Krodha. Topeng memberi jarak, tetapi juga memberi keberanian. Ia melindungi, sekaligus membuka ruang bagi perempuan untuk menyuarakan sisi-sisi diri yang mungkin sulit diungkap di tengah maraknya pembungkaman terhadap perempuan.
Ketika musik mengalun dan penonton larut dalam suasana, saya menyadari satu hal: festival bukan hanya tentang tontonan, tetapi tentang perjumpaan. IMF mempertemukan budaya lintas negara, lintas generasi, dan lintas perspektif.
Bagi saya, ia juga mempertemukan Solo dan Gorontalo dalam satu ruang imaji, ruang di mana topeng dan karawo saling menyapa, saling mengakui keberadaan, dan sama-sama merayakan perempuan sebagai pusat kreativitas.
Di balik topeng-topeng yang megah itu, ada kecantikan yang tidak mudah didefinisikan. Ia tidak meminta untuk dinilai, hanya untuk dirasakan.
Dan mungkin, di situlah letak magisnya keberagaman budaya: ia mengajarkan kita bahwa kecantikan memiliki banyak wajah, banyak bahasa, dan selalu menemukan jalannya sendiri untuk hidup—selama ada manusia yang mau merawat dan merayakannya. (Novita J. Kiraman)
