Sejak sore hari, ribuan penonton mulai memadati area Pendhapi Gedhe. Antusiasme terbesar banyak datang dari kalangan muda, menunjukkan semakin kuatnya minat generasi Z terhadap warisan budaya tradisional. Beberapa rombongan mahasiswa dari luar kota terlihat hadir untuk menyaksikan pergelaran seni topeng yang semakin tahun semakin berkembang secara kreatif.
Salah satu pertunjukan yang menarik perhatian adalah tari topeng Janma Krodha, yang menggambarkan empat sifat dasar manusia: Amarah (anger), Aluamah (desire), Supiyah (passion), dan Mutmainah (serenity). Para penari membentangkan kain putih, hitam, merah, dan kuning sebagai simbol empat elemen yang melekat pada karakter manusia.

Yang membuat pertunjukan semakin istimewa adalah kehadiran para penari perempuan muda, yang tampil penuh presisi dan ekspresi. Di balik topeng-topeng yang mereka kenakan, tampak representasi kekuatan perempuan yang selama ini menjadi penjaga nilai-nilai budaya. Mereka bukan sekadar penampil, melainkan penerus tradisi.
“Perempuan sejak dulu memiliki peran besar dalam seni topeng, baik sebagai pengolah cerita maupun pewaris nilai. Hari ini kita melihat generasi mudanya mengambil peran itu dengan penuh percaya diri,” ujar salah satu kurator seni IMF.
Meski tidak selalu tampak, perempuan menjadi sosok penting dalam keberlangsungan seni topeng. Mereka adalah pencipta gerak, perawat kostum, penjaga cerita, sekaligus penafsir ulang filosofi topeng yang diwariskan turun-temurun.




